TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar, menegaskan bahwa tradisi Haul Ulama dan Habaib Betawi bukan sekadar agenda mengenang para pendahulu, tetapi menjadi momentum untuk meneladani perjuangan ulama dalam membangun karakter bangsa.
Hal itu disampaikan Muhaimin saat menghadiri Haul Ulama dan Habaib Betawi 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Jumat, 19 Juni 2026 malam.
Menurutnya, para ulama dan habaib telah berkontribusi besar dalam membentuk mentalitas, akhlak, serta kualitas sumber daya manusia Indonesia jauh sebelum kemerdekaan.

"Haul sebagai tradisi untuk menelusuri, meneladani, dan meneruskan perjuangan beliau-beliau para ulama, yang sebelum kemerdekaan telah membangun karakter, mental, akhlak, dan tentu saja membangun sumber daya manusia sehingga tangguh hingga hari ini," ujar Muhaimin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 20 Juni 2026.
Ia mengatakan, tradisi haul memiliki makna penting dalam menjaga kesinambungan nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kebudayaan yang menjadi kekuatan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Betawi sebagai salah satu pilar sejarah Jakarta.
Lebih lanjut, Muhaimin menilai kegiatan tersebut juga menjadi momentum memperkuat identitas Jakarta sebagai kota global yang tetap berpijak pada akar budaya dan tradisi.
"Insyaallah, 500 tahun Jakarta ini, ini betul-betul bisa menjadi kota yang bersaing secara global. Benar-benar menjadi kota yang maju dan unggul dalam segala aspek, terutama aspek spiritual serta aspek kekuatan akhlak dan mentalitas umatnya," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Muhaimin turut mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga dan mengangkat budaya Betawi sebagai identitas kota. Menurutnya, pelestarian budaya lokal merupakan bagian penting dari pembangunan manusia dan pemberdayaan masyarakat.
Ia pun menyinggung pentingnya mengembalikan martabat ikon budaya Betawi, seperti ondel-ondel, agar menjadi simbol kebanggaan masyarakat Jakarta.
"Bukan hanya memanusiakan Jakarta, tetapi juga 'mengondel-ondelkan' ondel-ondel. Menempatkan ondel-ondel sesuai dengan maqam-nya, tidak untuk dipakai ngamen, tapi untuk menjadi kebanggaan Jakarta," tegasnya.
Kemudian, Muhaimin menegaskan pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga harus dibarengi pembangunan karakter, mentalitas, serta nilai-nilai spiritual masyarakat. Karena itu, peran ulama, habaib, dan tokoh agama dinilai tetap strategis dalam perjalanan pembangunan nasional.
Ia juga menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto tengah menjalankan arah baru pembangunan, untuk menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Menurutnya, berbagai kebijakan pemerintah membutuhkan dukungan serta doa dari para ulama dan seluruh elemen masyarakat.
Menutup sambutannya, Muhaimin berharap Haul Ulama dan Habaib Betawi dapat terus menjadi tradisi tahunan yang mempererat hubungan antara ulama, pemerintah, dan masyarakat sekaligus memperkuat semangat persatuan demi kemajuan bangsa.










