TVRINews – Jakarta
Aksi nyata Himpunan Wastraprema lestarikan kain tradisional Nusantara.
Menyongsong usia setengah abad dedikasinya dalam merawat warisan budaya, Himpunan Wastraprema (HWP) kembali menggelar agenda tahunan Wisata Wastra 2026.
Berlangsung sejak tanggal 10 hingga 12 September 2026, kegiatan ini mengajak para pencinta budaya menyusuri jejak historis wastra Nusantara menggunakan moda transportasi kereta api dari Jakarta menuju Surabaya dan Pulau Madura.
Rangkaian acara yang dihelat menjelang peringatan Hari Batik Nasional ini tidak sekadar menjadi ajang rekreasi kultural. Lebih dari itu, HWP merancang ekspedisi ini sebagai ruang edukasi publik yang melibatkan akademisi, mahasiswa, serta perajin lokal demi memperkuat ekosistem pelestarian kain tradisional Indonesia.
Napak Tilas Pesisir dan Perlindungan Hukum Indikasi Geografis
Para peserta mendapatkan pembekalan mendalam mengenai pentingnya pelindungan hukum bagi kain tradisional melalui skema Indikasi Geografis (IG) dari Direktorat Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum Republik Indonesia.
Sertifikasi ini berfungsi menjaga keaslian produk budaya yang lahir dari karakteristik unik alam serta keterampilan turun-temurun suatu daerah, seperti Batik Complongan asal Indramayu hingga Batik Nitik dari Yogyakarta.
Diskusi interaktif menghadirkan Siti Maemonah, seorang kolektor sekaligus pemerhati batik, yang mengupas sejarah panjang perkembangan batik Madura sejak abad ke-17. Ia memaparkan bahwa posisi strategis Madura sebagai jalur pelabuhan niaga masa lampau mempertemukan berbagai pengaruh budaya, mulai dari pesisir Jawa, Bugis, hingga Tionghoa.
Salah satu sorotan utama dalam sesi tersebut adalah Batik Gentongan. Dinamai demikian karena proses pewarnaannya memanfaatkan gentong tanah liat, teknik tradisional ini menghasilkan warna tajam yang meresap kuat dan tahan lama.
Para peserta juga berkesempatan menyaksikan langsung teknik pembuatan dari sentra perajin Pamekasan hingga Tanjung Bumi, serta mencicipi kuliner autentik setempat seperti nasi Serpang dan Bebek Sinjai.
Merajut Masa Depan Wastra di Surabaya
Rangkaian ekspedisi berlanjut pada hari ketiga di Universitas Kristen Petra, Surabaya. Dalam sesi diskusi akademis, Dosen Senior Program Studi Desain Interior Dr. Ir. Lintu Tulistantoro menjelaskan bahwa kekayaan batik Jawa Timur tumbuh di luar pakem keraton akibat dinamika perdagangan pesisir sejak abad ke-15.
Pengaruh silang budaya antara Mataram, Tionghoa, Arab, dan Eropa melahirkan corak khas, termasuk motif ikonik Suro dan Boyo yang merefleksikan identitas Kota Surabaya.
Kemeriahan acara ditandai dengan peresmian Batik Corner di gedung perpustakaan kampus setempat, serta peragaan busana kreasi mahasiswa yang memanfaatkan kain tradisional tanpa proses jahitan.
Kehadiran Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Jawa Timur, Arumi Bachsin Emil Dardak, turut memperkuat urgensi pemberdayaan perajin agar mampu menembus pasar global tanpa kehilangan akar identitas lokal.
Ketua Umum Himpunan Wastraprema, Sri Sintasari Iskandar, menegaskan bahwa nilai luhur sehelai kain tradisional terletak pada dimensi sejarah, makna filosofis, dan proses kreatif di dalamnya. Melalui perhelatan ini, HWP optimistis jaringan kerja sama antarkomunitas dan perajin lokal akan semakin solid dalam menjaga kelestarian warisan leluhur bangsa di tengah era modern.










