TVRINews, Sumatera Utara
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid menyatakan penayangan Piala Dunia 2026 secara gratis melalui TVRI bukan sekadar menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum yang mempererat persatuan dan kebersamaan bangsa.
Hal itu disampaikan Meutya saat membuka acara nonton bareng (nobar) Final Piala Dunia 2026 di Garuda Spark Innovation Hub, Pos Bloc Medan, Sumatera Utara, Senin, 20 Juli 2026.
"Kita terima kasih kepada Bapak Presiden yang sudah memberikan sebuah hiburan untuk rakyat melalui tayangan Piala Dunia secara gratis melalui TVRI," kata Meutya dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Kementerian Komdigi, Senin, 20 Juli 2026.
Menurut Meutya, akses gratis terhadap siaran Piala Dunia memungkinkan masyarakat Indonesia merasakan pengalaman yang sama dengan jutaan penonton di berbagai belahan dunia. Melalui teknologi penyiaran, masyarakat dapat terhubung dalam semangat kebersamaan yang melampaui batas negara.
"Jadi malam ini kita tidak hanya terkoneksi dengan 60 titik yang diselenggarakan Komdigi, tapi begitu banyak manusia sedunia yang melakukan hal yang sama dengan yang kita lakukan. Kesan utamanya tentu adalah pertandingan menyatukan. Tidak hanya hati kita di sini, tapi sedunia," ujarnya.
Kemudian Meutya menegaskan, Piala Dunia bukan hanya soal siapa yang keluar sebagai juara, melainkan juga menjadi ajang yang mengajarkan nilai sportivitas, perjuangan, dan persatuan.
"Dalam sebuah pertandingan yang paling utama adalah sportivitas. Dalam sebuah pertandingan yang dinilai adalah ikhtiarnya. Menang kalah bukan berarti pasti yang paling baik saja. Bisa jadi tahun ini yang menang satu negara, berikutnya negara lainnya," tuturnya.
Pada kesempatan itu, Meutya turut mengapresiasi TVRI yang kembali menjadi official broadcaster Piala Dunia setelah 24 tahun. Ia menyebut pencapaian tersebut sebagai tonggak penting dalam sejarah penyiaran publik Indonesia.
"Untuk teman-teman TVRI, ini sejarah. Karena terakhir TVRI menjadi official broadcaster itu 24 tahun lalu. Jadi setelah 24 tahun, baru kali ini kembali ke titik kebanggaan kita TVRI," ucapnya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah mengatakan pemerintah menanggung biaya penyiaran melalui TVRI sehingga masyarakat dapat menikmati seluruh pertandingan Piala Dunia tanpa harus membayar biaya langganan maupun menyewa perangkat tambahan.
Selain menghadirkan siaran gratis, Kementerian Komunikasi dan Digital juga menggelar nonton bareng final Piala Dunia di lebih dari 60 titik di berbagai daerah, antara lain Medan, Solo, Serang, Bukittinggi, Bali, hingga Balai Monitoring Spektrum Frekuensi Radio Ditjen Infrastruktur Digital Komdigi. Langkah tersebut dilakukan untuk memperluas akses masyarakat menikmati pesta sepak bola dunia secara bersama-sama.










