TVRINews, Depok
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mengembangkan talenta dan penguatan inovasi menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia sebagai negara maju pada 2045. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman.
Ia menilai, jika di tengah laju perkembangan teknologi yang berlangsung secara eksponensial, Indonesia dinilai perlu membangun ekosistem yang mampu menghubungkan riset, teknologi, industri, dan sumber daya manusia.
Lebih lanjut, ia mengatakan jika kemajuan teknologi seperti kecerdasan artifisial (AI), bioengineering, 3D printing, cloud computing, hingga agentic AI telah mengubah cara dunia berinovasi. Menurutnya, keunggulan suatu bangsa tidak lagi ditentukan semata oleh penguasaan teknologi, melainkan oleh kemampuan mengembangkan talenta yang mampu menciptakan inovasi.
“Mata uang baru kita itu bukan teknologi itu sendiri, tetapi bagaimana talenta dan inovasi kita kembangkan,” kata Fauzan dalam keterangan yang diterima tvrinews.com pada Kamis, 10 September 2026.
Ia menambahkan, penguatan ekosistem inovasi juga menjadi strategi penting untuk meningkatkan produktivitas nasional sekaligus membantu Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Salah satu langkah yang didorong pemerintah adalah memperbesar investasi riset dan pengembangan (research and development/R&D) dari sektor swasta melalui kolaborasi serta skema co-funding dengan dunia industri.
Selain itu, Fauzan menilai paradigma riset di perguruan tinggi perlu bergeser dari orientasi publikasi menuju riset berbasis persoalan nyata (problem statement) dan challenge-based research yang menghasilkan dampak konkret bagi masyarakat maupun industri.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Kemas Ridwan Kurniawan, mengatakan transformasi digital, transisi energi, perubahan iklim, dan agenda pembangunan berkelanjutan menghadirkan tantangan baru bagi dunia keteknikan.
Menurutnya, insinyur masa depan dituntut tidak hanya mampu menciptakan teknologi, tetapi juga memastikan setiap inovasi memberikan solusi atas persoalan masyarakat, meningkatkan daya saing industri, dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Seminar nasional tersebut turut menghadirkan Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Pindad, Prima Kharisma, yang menekankan pentingnya memperkuat kedaulatan teknologi melalui inovasi dalam negeri agar Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan teknologi dari luar negeri.
Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri diharapkan menjadi penggerak utama dalam mempercepat hilirisasi riset, mengembangkan talenta unggul, serta mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.










