TVRINews, Banjarmasin
Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) memperkuat upaya mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul yang siap bersaing di pasar kerja internasional melalui kerja sama strategis dengan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS), Selasa, 23 Juni 2026.
Kerja sama ini sekaligus menandai peresmian Migrant Center pertama di kawasan Kalimantan yang berlokasi di kampus ULM. Fasilitas tersebut menjadi pusat layanan terpadu untuk menyiapkan mahasiswa dan masyarakat agar dapat mengakses peluang kerja luar negeri secara aman, legal, dan profesional.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, (P2MI), Mukhtarudin mengatakan, langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden RI Prabowo Subianto untuk memperbaiki tata kelola pekerja migran Indonesia melalui peningkatan kualitas pelindungan dan penempatan tenaga kerja terampil.
"Institusi pendidikan tinggi seperti Universitas Lambung Mangkurat memiliki peran strategis ganda. Pertama, sebagai mitra hulu yang menyiapkan SDM kompeten dan tersertifikasi sejak di bangku kuliah. Kedua, sebagai garda edukasi yang membentengi mahasiswa serta masyarakat dari jebakan migrasi non-prosedural melalui literasi jalur resmi," ujar Mukhtarudin dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Selasa, 23 Juni 2026.
Menurutnya, Indonesia harus mampu memanfaatkan bonus demografi yang dimiliki untuk menjawab tingginya kebutuhan tenaga kerja di negara-negara maju yang tengah menghadapi fenomena penuaan penduduk (aging population).

Berdasarkan data Sistem Informasi Pasar Kerja (SIP2MI) per 21 Juni 2026, tersedia 311.073 peluang kerja luar negeri. Namun, baru 76.979 posisi atau 24,75 persen yang berhasil terisi.
"Artinya, masih ada 234.094 peluang kerja atau sekitar 75,25 persen yang kosong dan menanti untuk diisi oleh tenaga kerja Indonesia yang kompeten," jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah telah menyusun peta jalan penempatan 500 ribu tenaga kerja terampil pada periode 2026–2029 di berbagai sektor strategis, seperti caregiver, welder, hospitality, perawat, hingga sopir truk.
Program tersebut mengusung konsep brain circulation, yakni mendorong pekerja migran menjadi talenta global yang nantinya kembali membawa pengalaman dan kompetensi untuk membangun Indonesia.
Migrant Center ULM juga akan menjadi pusat informasi karier internasional, penyelarasan kurikulum, peningkatan kapasitas teknis, hingga edukasi anticalo. Kehadiran pusat layanan ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan bahasa asing dan sertifikasi kompetensi mahasiswa sebelum memasuki pasar kerja global.
Rektor ULM, Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, Migrant Center akan menjadi momentum penting dalam transformasi pengelolaan SDM di lingkungan kampus.
"Tentu ini mudah-mudahan akan menjadi poin kolaborasi antar pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan tentu saja ini akan berdampak luas terhadap kebijakan-kebijakan pengelolaan sumber daya manusia di ULM," kata Ahmad Alim Bachri.
ULM juga berkomitmen memperkuat kompetensi bahasa asing bagi lebih dari 30 ribu mahasiswanya agar siap ditempatkan di berbagai negara sesuai kebutuhan pasar kerja global.
Melalui sinergi ini, ULM diharapkan tidak hanya menjadi institusi pendidikan tinggi, tetapi juga bertransformasi sebagai inkubator talenta global dari Kalimantan yang mampu menyuplai tenaga kerja profesional ke berbagai negara maju secara aman dan bermartabat.










