TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri (Wamen) Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, mendorong penguatan ekosistem industri berbasis serat tanaman rami sebagai upaya memperkuat rantai nilai ekonomi kreatif nasional sekaligus mendukung lahirnya produk fesyen berkelanjutan buatan Indonesia.
Menurutnya, pengembangan material tekstil berkelanjutan tidak cukup hanya mengandalkan promosi produk, melainkan harus dibangun melalui ekosistem bisnis yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Yang perlu kita bangun bukan hanya promosi produk, tetapi keseluruhan ekosistem bisnis. Mulai dari bahan baku, pengolahan, industri, sampai model bisnis dan proyek investasinya. Kalau alurnya jelas serta skalanya terukur, maka akan lebih mudah menarik unsur kolaborasi dan proyeksi pembiayaan (IP financing) untuk pengembangan material tekstil berkelanjutan ini," ujar Irene dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Selasa, 23 Juni 2026.
Irene menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, peneliti, industri fesyen, dan pelaku ekonomi kreatif menjadi kunci agar inovasi lokal dapat berkembang menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan mampu bersaing di pasar global.

"Riset dan pengembangan di kampus harus bisa bertemu dengan kebutuhan industri kreatif. Ketika ada proyeksi bisnis yang kuat dan pemanfaatan kekayaan intelektual yang tepat, inovasi lokal bisa berkembang menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan berdaya saing global," ucapnya.
Aruna Creative memaparkan inovasi pengembangan serat rami yang mengintegrasikan riset, hilirisasi industri, serta pemberdayaan petani dan pegiat ekonomi kreatif. Konsep tersebut juga mengedepankan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan seluruh bagian tanaman rami menjadi produk bernilai tambah.
Founder Aruna Creative, Yuliana Fitri, mengatakan rami memiliki potensi besar untuk menjadi serat unggulan nasional yang dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor.
"Rami itu bisa menjadi salah satu serat unggulan yang harus disebarluaskan di Indonesia sehingga ada edukasi terhadap industri fesyen supaya rami bisa dikembangkan dan dipakai dengan nyaman. Dengan demikian, Indonesia tidak ketergantungan bahan baku dari luar negeri dan bisa fokus terhadap rami karena sangat menguntungkan dari hulu ke hilir," kata Yuliana.
Saat ini, Aruna Creative telah mengembangkan berbagai produk berbasis serat rami, mulai dari benang, pakaian dengan pewarna alami dan sintetis, hingga aksesori fesyen yang telah menembus pasar Jepang. Jenama tersebut juga mengusung semangat pemberdayaan perempuan, penyandang disabilitas, serta pendidikan vokasi dalam proses produksinya.
Melalui dukungan terhadap inovasi serat rami, Kementerian Ekraf berharap Indonesia mampu membangun ekosistem fesyen berkelanjutan yang kuat, memperluas nilai tambah industri kreatif, serta membuka peluang investasi baru berbasis kekayaan intelektual dan material lokal.










