TVRINews, Sumatera Selatan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Sumatera Selatan mengerahkan 11.567 personel gabungan serta sembilan armada udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di wilayah tersebut.
Pengerahan personel dan peralatan dilakukan untuk mengintensifkan operasi darat dan udara di tengah puncak musim kemarau dan fenomena El Nino 2026. Langkah tersebut juga dilakukan untuk menekan kemunculan titik api serta mencegah risiko kabut asap.
Sebanyak 11.567 personel gabungan yang terdiri atas TNI, Polri, Manggala Agni, BPBD, Basarnas, Masyarakat Peduli Api (MPA), sektor swasta, dan relawan diterjunkan ke sejumlah wilayah terdampak.
Penguatan personel dilakukan untuk menghadapi sejumlah kendala di lapangan, terutama keterbatasan akses menuju lokasi kebakaran dan sumber air.
Selain operasi darat, BNPB juga menyiagakan sembilan armada udara dari total 32 armada nasional untuk memantau dan memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan telah menyelesaikan 27 sortie penerbangan dengan menyemai sekitar 27.000 kilogram bahan semai.
Sementara itu, operasi patroli udara menggunakan helikopter AS365 N2 dan pesawat Cessna 208B telah mencatat lebih dari 439 jam terbang untuk memetakan titik panas.
Untuk operasi pemadaman dari udara, helikopter Blackhawk, MI-8, dan Super Puma telah melaksanakan lebih dari 237 sortie water bombing. Operasi tersebut difokuskan di sejumlah wilayah, antara lain Tulung Selapan, Rantau Bayur, Sungai Rotan, dan Lalan.
Data pemantauan hingga 30 Agustus 2026 menunjukkan masih terdapat 67,06 hektare area di Sumatera Selatan yang memerlukan pemadaman dan pemantauan ketat.
Patroli udara mendeteksi 11 titik api dengan luas sekitar 45 hektare. Sementara pengecekan lapangan oleh Satgas Darat menemukan area terdampak seluas sekitar 22,06 hektare.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan hasil operasi pemadaman di Sumatera Selatan menunjukkan pentingnya peran Satgas Darat dalam menangani kebakaran hutan dan lahan.
"Hasil operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan membuktikan bahwa Satgas Darat yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api, Basarnas, relawan, dan sektor swasta menjadi kekuatan utama dan harus semakin ditingkatkan kekuatannya," ujar Suharyanto dalam keterangan tertulis yang dikutip oleh tvrinews.com, Selasa, 1 September 2026.
Melalui operasi gabungan, lahan seluas 18,36 hektare berhasil dipadamkan. Sebanyak 2,5 hektare dipadamkan melalui water bombing, sedangkan 15,86 hektare lainnya ditangani melalui operasi darat.
Saat ini, Satgas Karhutla masih memfokuskan operasi pada tahap pendinginan di area seluas 48,7 hektare. Penanganan terutama dilakukan di kawasan lahan gambut untuk mencegah api kembali muncul.
BNPB juga menyalurkan bantuan sarana operasional kepada tujuh BPBD kabupaten dan kota terdampak, yakni Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Ilir, Palembang, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim, dan Ogan Komering Ilir (OKI).
Setiap daerah menerima bantuan berupa alat pelindung diri Karhutla, selang, pompa jinjing, pompa bertekanan tinggi, nozzle, dan flexible tank.
BNPB bersama seluruh unsur Satgas Karhutla memastikan operasi penanganan akan terus dilakukan selama 24 jam hingga puncak musim kemarau berakhir dan seluruh titik api dapat dipadamkan.









