TVRINews, Jakarta
Sebanyak 52 industri kecil dan menengah (IKM) serta perajin dari lima kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ambil bagian dalam Pameran Kerajinan Jogja Istimewa (PKJI) 2026.
Pameran yang memasuki tahun penyelenggaraan kedelapan ini berlangsung pada 31 Agustus hingga 3 September 2026 di Plasa Industri, Gedung Kementerian Perindustrian, Jakarta. Kegiatan diinisiasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY dengan mengusung tema “Kerajinan Jogja: Harmoni Tradisi dan Inovasi”.
PKJI 2026 menampilkan beragam produk unggulan, mulai dari batik, lurik, fesyen, kriya, aksesori, kerajinan berbahan alam hingga produk kreatif lainnya. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi IKM dan perajin Yogyakarta untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas akses pasar.
Wakil Ketua Harian I Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Loemongga Agus Gumiwang mengatakan, penyelenggaraan PKJI 2026 merupakan bentuk nyata komitmen bersama dalam menjaga sekaligus mengembangkan kekayaan wastra dan produk kriya Indonesia.
“Selain itu, pameran ini juga bertujuan memperluas pengenalan beragam produk wastra dan kriya kepada masyarakat, sekaligus meningkatkan daya saingnya di pasar nasional hingga pada akhirnya mampu menembus pasar global,”kata Loemongga dalam keterangan tertulis, dikutip, Senin, 31 Agustus 2026.
Loemongga menuturkan, pengembangan industri kerajinan dan wastra membutuhkan sinergi antara Dekranas, Dekranasda, dan pemerintah. Penguatan tersebut dilakukan melalui pembinaan, promosi, kemitraan, serta perluasan akses pasar bagi para perajin dan pelaku usaha.
“Dekranas terus berupaya menghadirkan ruang bagi para perajin dan pelaku usaha untuk berkembang, berinovasi, serta memperluas akses pasar melalui berbagai program pembinaan, promosi, dan kemitraan,”tambahnya.
Ia juga melihat perkembangan tren fesyen berkelanjutan atau slow fashion sebagai peluang bagi wastra Nusantara untuk semakin dikenal. Penggunaan bahan alami, teknik produksi tradisional, nilai budaya, dan keterampilan perajin menjadi keunggulan yang membedakan produk kriya Indonesia dari produk massal.
“Wastra Indonesia memiliki keunggulan yang tidak hanya terletak pada keindahan motifnya, tetapi juga pada penggunaan bahan alami, teknik produksi tradisional, serta keterampilan para perajinnya. Nilai-nilai tersebut menjadi daya tarik, baik di pasar dalam negeri maupun mancanegara. Karena itu, mari bersama-sama mengangkat wastra sebagai bagian dari tren fesyen berkelanjutan agar terus relevan dengan perkembangan zaman,”ucapnya.
Berdasarkan data Pusat Data dan Informasi Kementerian Perindustrian, nilai ekspor industri kerajinan pada triwulan II 2026 mencapai USD909,95 juta. Angka tersebut meningkat 6,54 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Loemongga juga menilai regenerasi perajin menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri kerajinan. Generasi muda diharapkan melihat wastra dan kriya tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai bagian dari industri kreatif yang memiliki peluang ekonomi.
“Saya berharap kegiatan ini bukan sekadar pameran, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan apresiasi terhadap warisan budaya yang terus hidup, berkembang, dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan minat generasi muda terhadap wastra dan kriya Nusantara, yang menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan warisan budaya dan identitas bangsa di masa mendatang,”tegasnya.
Sementara itu, Ketua Harian Dekranasda DIY GKBRAA Paku Alam mengatakan, tema PKJI 2026 menggambarkan upaya mempertahankan tradisi dan kearifan lokal Yogyakarta sekaligus mendorong perajin beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Jangan takut untuk berinovasi, tetapi tetaplah berpegang pada karakter dan jati diri Yogyakarta. Jadikan kesempatan ini sebagai ruang untuk belajar, membangun jejaring, mendengarkan kebutuhan pasar, dan terus mengembangkan karya,”ungkap Paku.
Menurut GKBRAA Paku Alam, penyelenggaraan PKJI di Jakarta memiliki nilai strategis karena kota ini menjadi salah satu pusat perdagangan, bisnis, dan jejaring nasional. Kehadiran produk Yogyakarta di Jakarta diharapkan mempertemukan perajin dengan pasar, buyer, desainer, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, dan mitra strategis lainnya.
“Lebih jauh, kami ingin menjadikan PKJI sebagai ruang pertemuan antara perajin dengan pasar, buyer, desainer, pelaku usaha, komunitas, pemerintah, serta berbagai mitra strategis. Dengan demikian, akan terbuka peluang kolaborasi yang lebih luas, perluasan pasar, peningkatan kapasitas, serta pengembangan usaha bagi para IKM dan perajin Yogyakarta,”pungkasnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Reni Yanita menyebutkan, 52 IKM dan perajin dari lima kabupaten/kota di DIY berpartisipasi dalam PKJI 2026.
“Kekuatan utama IKM kerajinan terletak pada perpaduan antara nilai budaya dan kreativitas yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Karena itu, inovasi perlu terus dilakukan tanpa menghilangkan karakter dan identitas produk yang menjadi pembeda,”ujar Reni.
Reni menjelaskan, produk kerajinan memiliki keunggulan karena tidak hanya mengedepankan fungsi dan estetika, tetapi juga membawa cerita, identitas, serta nilai budaya daerah asal.
“Kerajinan memiliki keunggulan karena tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga membawa cerita, identitas, dan nilai budaya dari daerah asalnya. Keunggulan tersebut perlu dipertahankan dan diterjemahkan melalui desain, kualitas, teknologi, serta inovasi,”imbuhnya.
Ia menilai PKJI 2026 menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan industri. Tradisi dapat terus berkembang melalui kreativitas dan inovasi yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan pasar.
“Melalui penyelenggaraan PKJI 2026, kami berharap produk-produk unggulan para pelaku usaha dari Yogyakarta semakin dikenal, sekaligus membuka peluang transaksi, kemitraan, dan kolaborasi. Hal ini juga diharapkan dapat mendukung peningkatan kapasitas serta pengembangan usaha para perajin dan pelaku IKM,”pungkasnya.
Selain pameran, PKJI 2026 turut menghadirkan kegiatan business matching dan berbagai workshop industri kerajinan. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan kapasitas IKM dan perajin Yogyakarta.








