TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon mempelajari tata kelola Grand Egyptian Museum (GEM) sebagai bagian dari upaya mendorong modernisasi museum di Indonesia.
Fadli Zon bertemu dengan CEO Grand Egyptian Museum Authority, Prof. Dr. Ahmed Ghoneim, untuk menggali pengalaman Mesir dalam membangun sekaligus mengelola museum berskala internasional.
Dalam pertemuan tersebut, berbagai aspek dibahas, mulai dari pengelolaan koleksi, kurasi pameran, konservasi, operasional, keamanan, pemanfaatan teknologi, hingga strategi pembiayaan dan efisiensi energi.
Fadli Zon mengatakan pengalaman GEM dapat menjadi referensi bagi Indonesia yang tengah mengembangkan museum agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga menjadi ruang edukasi dan interaksi masyarakat.

(Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon (kanan) bersama CEO Grand Egyptian Museum Authority, Prof. Dr. Ahmed Ghoneim. [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud])
“Indonesia sedang mengembangkan museum-museum modern. Kami ingin belajar dari Grand Egyptian Museum, terutama bagaimana museum dengan koleksi besar dapat dikelola secara profesional, modern, menarik bagi masyarakat, dan memiliki posisi di tingkat internasional,” ujar Fadli Zon, Selasa, 22 September 2026.
Menurutnya, transformasi museum membutuhkan pembenahan secara menyeluruh. Pengelolaan koleksi, penelitian, konservasi, penyajian informasi, hingga pengalaman pengunjung menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan.
GEM Punya Tiga Fungsi Utama
CEO Grand Egyptian Museum Authority Prof. Dr. Ahmed Ghoneim menjelaskan, GEM dikembangkan dengan tiga fungsi utama, yakni Egyptology and Research, Global Tourism and Heritage, serta Cultural Communication. Melalui fungsi Egyptology and Research, museum diarahkan menjadi pusat penelitian mengenai sejarah dan peradaban Mesir.
Sementara itu, Global Tourism and Heritage menempatkan GEM sebagai bagian dari jaringan pariwisata dan warisan budaya dunia. Adapun Cultural Communication menjadikan museum sebagai ruang pertukaran dan komunikasi kebudayaan dengan masyarakat internasional. Konsep tersebut menjadi salah satu hal yang dipelajari Indonesia dalam merancang arah pengembangan museum modern.
Museum dinilai tidak cukup hanya mengandalkan koleksi yang bernilai sejarah. Koleksi juga perlu diteliti, dikonservasi, dikurasi, kemudian disajikan dengan cara yang mampu memberikan pengetahuan dan pengalaman kepada pengunjung.
Belajar dari Skala Pengelolaan GEM
Pertemuan juga membahas besarnya skala pembangunan GEM. Dalam pembahasan disebutkan, biaya pembangunan museum tersebut mencapai sekitar US$1,2 miliar hingga sebelum dibuka. GEM juga disebut mampu menghasilkan profit sekitar US$15 juta per tahun.
Selain pembiayaan, efisiensi energi menjadi perhatian dalam pengelolaan museum. Pemanfaatan energi surya serta peningkatan efisiensi sistem pendingin udara dan pencahayaan menjadi bagian dari strategi menjaga keberlanjutan operasional.
Bagi Indonesia, pengalaman tersebut memberikan gambaran bahwa pembangunan museum berskala besar tidak berhenti pada pembangunan gedung. Aspek pengelolaan jangka panjang, efisiensi, keamanan, sumber daya manusia, hingga pelayanan kepada pengunjung juga harus dipersiapkan.
Bahas Artefak dan Warisan Budaya
Pembahasan turut menyinggung keberadaan artefak Mesir yang berada di luar negeri. Persoalan yang dibahas antara lain asal-usul atau provenance benda budaya, aspek legalitas, hingga kemungkinan pengembalian artefak kepada negara asal.
Ahmed Ghoneim menjelaskan, proses pengembalian artefak berkaitan dengan kebijakan pemerintah serta kementerian yang memiliki kewenangan. Persoalan tersebut menjadi pembelajaran bagi Indonesia dalam memperkuat perlindungan dan pengelolaan warisan budaya, termasuk terhadap benda budaya yang berada di luar wilayah Indonesia.
Fadli Zon menilai pengalaman Mesir menunjukkan bahwa museum modern harus memiliki ekosistem pengelolaan yang kuat.
“Museum modern membutuhkan lebih dari sekadar bangunan dan koleksi. Ada tata kelola, penelitian, konservasi, teknologi, sumber daya manusia, pembiayaan, efisiensi energi, dan yang paling penting bagaimana museum memberikan pengalaman serta pengetahuan kepada masyarakat,” kata Fadli Zon.
Ia menambahkan, Indonesia memiliki kekayaan budaya yang besar dan berpeluang mengembangkan museum sebagai ruang yang menghubungkan warisan budaya dengan pendidikan, ilmu pengetahuan, pariwisata, dan masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut turut hadir Duta Besar RI untuk Republik Arab Mesir Kuncoro Giri Waseso beserta jajaran Grand Egyptian Museum Authority. Sementara dari Kementerian Kebudayaan hadir Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti, Staf Ahli Menteri Bidang Hukum dan Kebijakan Kebudayaan Rachmanda Primayuda, Direktur Promosi Kebudayaan Wawan Yogaswara, Penasihat Menteri bidang Pengembangan Strategi dan Optimalisasi Pengelolaan Museum Putu Supadma Rudana, serta Kepala Subdirektorat Hubungan Media Andhini Widyasari.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya Indonesia memperoleh pengalaman internasional dalam mengembangkan museum yang modern, berkelanjutan, sekaligus mampu mendekatkan warisan budaya kepada masyarakat.










