TVRINews, Makkah
Anggota Musyrif Dini (Konsultan Ibadah) Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Buya Gusrizal, menanggapi perbedaan pandangan terkait lokasi penyembelihan hewan Dam dalam ibadah haji. Ia menilai perbedaan tersebut merupakan bagian dari khazanah fikih dan meminta jemaah tetap tenang dalam menjalankan ibadah.
Pernyataan itu disampaikan Buya Gusrizal menanggapi rilis Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyebut penyembelihan Dam di luar Tanah Suci tidak sah. Sementara itu, terdapat pandangan lembaga keagamaan lain yang membolehkan pelaksanaan penyembelihan di Indonesia.
“Di Indonesia ada dua pendapat yang berkembang, dan keduanya merupakan fatwa. Belum ada yang menjadi regulasi mengikat. Karena itu, persoalannya bukan pada fatwa itu sendiri, tetapi pada bagaimana menyosialisasikannya kepada umat,”kata Buya dalam keterangan tertulis, Jumat, 15 Mei 2026.
Ia menegaskan umat tidak dapat dipaksa mengikuti satu pandangan tertentu, karena setiap jemaah berhak memilih fatwa yang memberikan ketenangan dalam beribadah.
“Manapun fatwa yang dipilih, itu adalah pilihan hati. Yang penting memberikan ketenangan. Tugas kami adalah memastikan jemaah beribadah dengan tenang,”jelasnya.
Buya menjelaskan, pada prinsipnya kedua pandangan tersebut memiliki titik temu, yakni sama-sama mengakui keabsahan penyembelihan Dam di Tanah Haram. Perbedaan hanya terletak pada keharusan pelaksanaannya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar perbedaan pandangan tersebut tidak disampaikan secara kaku di tengah masa puncak ibadah haji karena berpotensi menimbulkan kebingungan jemaah.
“Ijtihad tidak bisa dibatalkan dengan ijtihad lain. Jika dipertentangkan, justru bisa membingungkan umat. Beban fatwa itu ada pada mufti, bukan pada jemaah,” tegasnya.
Terkait pelaksanaan di lapangan, Musyrif Dini memastikan akan tetap mengawal penyembelihan Dam di Tanah Haram sesuai ketentuan syariat dan regulasi yang berlaku melalui lembaga resmi yang telah ditunjuk, yakni Adahi.
Sementara bagi jemaah yang memilih pelaksanaan di Tanah Air, ia mengimbau agar dilakukan melalui lembaga yang kredibel, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di akhir pernyataannya, Buya Gusrizal menyampaikan rencana untuk mempertemukan para pihak terkait setelah musim haji guna mencari titik temu atas perbedaan pandangan yang ada.
“Yang paling penting saat ini adalah memastikan ibadah jemaah berjalan tenang dan nyaman. Setelah musim haji, kita akan duduk bersama mencari titik temu,”tuturnya.










