TVRINews, Jakarta
Kerja sama Indonesia dan Jepang dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) sektor perkeretaapian memasuki tahap baru melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP) Kementerian Perhubungan dan Japan Railway Technical Service (JARTS).
MoU tersebut menjadi landasan penguatan program penyiapan dan penempatan tenaga kerja Indonesia di Jepang melalui skema Specified Skilled Worker (SSW), khususnya di sektor perkeretaapian.
Pada kesempatan yang sama, JARTS juga menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun, PTDI-STTD Bekasi, dan ITL Trisakti. Kerja sama ini difokuskan pada pelatihan bahasa Jepang, peningkatan kompetensi teknis perkeretaapian, serta persiapan peserta program SSW.
Direktur BPSDMP Kemenhub menyebut kolaborasi ini sebagai langkah strategis dalam memperkuat daya saing SDM transportasi Indonesia agar mampu memenuhi kebutuhan industri global, khususnya Jepang yang tengah mengalami peningkatan permintaan tenaga kerja di sektor transportasi.
Program SSW bidang perkeretaapian yang telah berjalan sebelumnya menunjukkan capaian signifikan. Pada program percontohan tahun 2025, sebanyak 24 dari 25 peserta dinyatakan lulus, dengan 23 orang telah bekerja di berbagai perusahaan perkeretaapian di Jepang Timur.
Sementara itu, pada 2026, program diikuti 113 peserta yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan 47 perusahaan perkeretaapian Jepang. Dari jumlah tersebut, 98 peserta atau sekitar 87 persen berhasil lulus ujian SSW dan dijadwalkan mulai bekerja pada musim panas 2026.

Selain itu, JARTS juga menyiapkan pelatihan bahasa Jepang bagi 35–40 mahasiswa tingkat akhir dan lulusan dari tiga institusi pendidikan tersebut mulai musim gugur 2026.
Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, menegaskan bahwa kerja sama ini membuka peluang yang semakin luas bagi talenta Indonesia di berbagai sektor.
"Melalui kesepakatan ini, terbuka peluang lebih besar bagi taruna dan lulusan Indonesia untuk berkarier di Jepang, tidak hanya di perkeretaapian, tetapi juga transportasi darat, logistik, hingga perikanan," ujar Nurmala Kartini Sjahrir dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Selasa, 23 Juni 2026.
Hingga saat ini, tercatat 20 lulusan Indonesia telah bekerja sebagai pengemudi bus di Jepang pada sejumlah operator, termasuk Tokyo Bus, Osaka Bus, Meitetsu Bus, Fujikyu Bus, dan Hiroshima Kotsu. Selain itu, 15 lulusan lainnya bekerja di sektor truk dan logistik, sementara sekitar 99 calon pekerja masih dalam tahap persiapan keberangkatan.
Di sektor logistik, kerja sama turut diperluas melalui penandatanganan Memorandum of Cooperation (MOC) antara SBS Group Jepang dan PTDI-STTD Bekasi. SBS Group sendiri merupakan salah satu perusahaan logistik terbesar di Jepang yang bergerak di bidang transportasi kargo, pergudangan, distribusi, hingga layanan logistik terpadu.
Sementara di sektor perikanan, KBRI Tokyo memfasilitasi kunjungan delegasi Prefektur Miyazaki ke Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai tindak lanjut kebutuhan tenaga kerja di sektor tersebut.
Melalui rangkaian kerja sama ini, pemerintah Indonesia dan Jepang menegaskan komitmen untuk memperkuat pengembangan SDM yang kompeten, berdaya saing, dan siap bersaing di pasar kerja internasional melalui jalur SSW.










