TVRINews, Jakarta
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menjadi pemecah masalah (problem solver) di tengah masyarakat.
Pesan itu disampaikan Iftitah saat membuka Pembekalan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 di Bogor, Jawa Barat, Sabtu, 25 Juli 2026. Sebanyak 1.476 peserta akan diterjunkan ke 53 kawasan transmigrasi di berbagai wilayah Indonesia.
"Indonesia membutuhkan SDM yang tidak lagi menunggu perintah, tetapi mampu melihat masalah, menganalisisnya, lalu menghadirkan solusi. Itulah yang kami sebut sebagai Disiplin Inisiatif," kata Iftitah dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Minggu, 26 Juli 2026.
Menurutnya, Disiplin Inisiatif merupakan karakter yang dibangun dari rasa ingin tahu, keberanian mengambil inisiatif, kreativitas, dan kemampuan berinovasi. Karakter tersebut dinilai penting untuk mencetak sumber daya manusia unggul sekaligus calon pemimpin Indonesia di masa depan.
Karena itu, para peserta Tim Ekspedisi Patriot tidak hanya ditugaskan mengamati kondisi di lapangan, tetapi juga mengidentifikasi persoalan, memetakan potensi daerah, melakukan analisis secara ilmiah, hingga merumuskan solusi yang dapat diterapkan bersama masyarakat dan pemerintah daerah.
Lebih lanjut, Iftitah menilai tantangan pembangunan Indonesia tidak dapat dijawab hanya melalui teori di ruang kuliah. Menurutnya, ilmu pengetahuan harus hadir sebagai solusi nyata melalui pendekatan yang sistematis, objektif, dan berbasis metodologi.
"Kalau adik-adik membuat skripsi dengan mengamati satu masalah, nah itulah ilmu. Ilmu itu harus ada metodologi, sistematika, analitika, dan keobjektifan. Tidak bisa hanya berdasarkan kasatmata atau informasi saja," ujarnya.
Kemudian, ia juga menegaskan bahwa kehadiran para Patriot muda di kawasan transmigrasi merupakan bagian dari investasi negara dalam mendistribusikan sumber daya manusia unggul ke berbagai penjuru Indonesia.
Menurut Iftitah, peserta akan menghadapi persoalan yang kompleks, bahkan sebagian telah berlangsung selama puluhan tahun. Karena itu, mereka tidak dituntut menyelesaikan seluruh persoalan dalam waktu singkat, melainkan menjadi bagian dari proses penyelesaian yang berkelanjutan.
"Di transmigrasi ada persoalan lahan yang belum selesai selama 23 tahun. Jangan berharap semua selesai dalam satu atau dua hari. Yang penting kita terus melanjutkan. Siapa pun menterinya, siapa pun presidennya, pembangunan transmigrasi harus terus berjalan," ucapnya.
Iftitah menambahkan, keberhasilan pembangunan pada akhirnya sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang menjalankannya. Ia mengutip filosofi yang dipegangnya sejak bertugas di militer, the man behind the gun, bahwa sehebat apa pun sarana yang dimiliki, faktor penentu tetaplah manusianya.
Selain menjalankan tugas di lapangan, para peserta juga didorong mendokumentasikan pengalaman, gagasan, dan pembelajaran selama ekspedisi. Dokumentasi tersebut akan dihimpun dalam buku Filosofi dan Pemikiran Patriot sebagai rekam jejak pemikiran generasi muda untuk pembangunan Indonesia.
Tim Ekspedisi Patriot 2026 terdiri atas 1.476 peserta yang terbagi dalam 246 tim dan akan bertugas di 53 kawasan transmigrasi, meliputi 41 Kawasan Transmigrasi Prioritas Nasional, dua kawasan prioritas Kementerian Transmigrasi, serta 10 kawasan transmigrasi di Papua.
Program ini merupakan bagian dari Transmigrasi Patriot, salah satu program unggulan dalam agenda 5T Kementerian Transmigrasi, yang bertujuan menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan nyata masyarakat serta mendorong lahirnya inovasi dan pembangunan berkelanjutan di kawasan transmigrasi.









