TVRINews, Jakarta
Masyarakat diminta tidak terburu-buru memborong obat antivirus di tengah meningkatnya perhatian terhadap kasus influenza A.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) memastikan persediaan obat antivirus di dalam negeri masih mencukupi. Kepastian itu disampaikan setelah muncul informasi mengenai sulitnya mendapatkan oseltamivir di sejumlah tempat.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengatakan pihaknya telah memantau kondisi ketersediaan obat melalui unit yang menangani registrasi dan distribusi.
"Berdasarkan data dari Kedeputian I, khususnya Direktorat Registrasi Obat dan Distribusi Obat, kita memiliki kecukupan obat-obat antivirus," ujar Taruna di Kabupaten Tangerang, Kamis, 1 Oktober 2026
Menurut Taruna, masyarakat tidak perlu menjadikan kabar mengenai keterbatasan obat sebagai alasan untuk panik.
"Ketersediaan antivirus tetap tersedia dan tercukupi. Jadi masyarakat jangan panik," katanya.
Persoalan informasi mengenai obat sebelumnya juga menjadi perhatian Kementerian Kesehatan. Penyebaran kabar terkait influenza A yang berlangsung cepat melalui media sosial disebut menjadi salah satu faktor munculnya kekhawatiran publik.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kemenkes RI Lucia Rizka Andalusia mengatakan perbedaan informasi mengenai stok obat di masing-masing wilayah turut menjadi perhatian.
"Kekhawatiran ini terutama disebabkan karena informasi mengenai peningkatan kasus beredar cepat di media sosial dan adanya info perbedaan ketersediaan obat di antara berbagai wilayah," ujar Lucia dalam konferensi pers, Senin (28/9/2026).
Kemenkes kemudian meminta masyarakat lebih selektif dalam menerima informasi. Masyarakat dianjurkan memastikan kebenaran informasi sebelum mengambil keputusan, khususnya terkait pembelian dan penggunaan obat.
"Namun kami ingin memastikan bahwa masyarakat dapat memperoleh informasi yang tepat dan tidak mengambil tindakan berdasarkan informasi yang belum terverifikasi," katanya.
Di tengah isu ketersediaan oseltamivir, Kemenkes juga menjelaskan bahwa obat antivirus tidak selalu diperlukan bagi setiap orang yang mengalami influenza.
Pasien yang tidak menunjukkan gejala atau tanda bahaya tertentu dapat melakukan perawatan di rumah. Istirahat dan pemenuhan cairan tubuh menjadi bagian penting selama proses pemulihan.
"Sehingga tidak setiap orang harus mendapatkan obat antivirus atau oseltamivir ini," jelas Lucia.
Namun, kondisi pasien tetap harus diperhatikan. Apabila muncul tanda bahaya, penanganan medis diperlukan agar pasien mendapatkan pemeriksaan dan terapi yang sesuai.
"Jika menunjukkan tanda bahaya, segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat," lanjutnya.
Dengan adanya kepastian dari BPOM mengenai stok antivirus dan penjelasan Kemenkes terkait penggunaannya, masyarakat diimbau tidak mengambil obat secara berlebihan hanya karena mengikuti informasi yang belum terverifikasi.










