TVRINews – Selat Sunda
Pencarian 10 Hari Nihil, Tim SAR Hentikan Misi Selat Sunda
Operasi pencarian gabungan yang memobilisasi berbagai elemen maritim dan udara resmi dihentikan setelah penyisiran intensif selama sepuluh hari tidak membuahkan hasil signifikan di perairan Selat Sunda.
Keputusan tersebut diambil menyusul nihilnya petunjuk baru maupun tanda-tanda keberadaan kapal cepat dan delapan korban yang hilang sejak awal September 2026.

Foto Ilustrasi Grafis: TVRINews.com
Gubernur Banten, Andra Soni, dalam keterangan pers yang disampaikan pada Kamis 17 september 2026, menjelaskan bahwa penutupan misi kemanusiaan ini diputuskan setelah seluruh sektor penyisiran di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau dievaluasi secara menyeluruh oleh otoritas berwenang.
"Maka dengan berat hati pelaksanaan operasi gabungan ini oleh pihak yang memiliki kewenangan, dinyatakan dihentikan," ujar Andra Soni di hadapan awak media.
Kapal cepat KM Arupadhatu 1 dilaporkan hilang kontak pada Senin, 7 September 2026, ketika tengah melakukan pelayaran menuju kawasan Gunung Anak Krakatau untuk agenda peliputan media.
Kapal tersebut membawa delapan orang di dalamnya, yang terdiri atas lima wartawan dari berbagai lembaga pemberitaan M. Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (jurnalis independen) serta tiga awak kapal yaitu Warta selaku kapten, Surakman sebagai anak buah kapal, dan Heriyanto selaku pemandu lokal.
Selama sepuluh hari pelaksanaan operasi, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) bersama TNI Angkatan Laut, Kepolisian, dan unsur potensi SAR lainnya telah mengerahkan kekuatan penuh.
Area pencarian bahkan diperluas hingga ribuan mil laut persegi dengan melibatkan puluhan kapal patroli, helikopter, serta penggunaan teknologi pemantauan termal. Kendati demikian, tantangan cuaca ekstrem, arus bawah laut yang kuat, serta dinamika aktivitas vulkanik di sekitar kawasan tersebut menjadi hambatan utama dalam proses penyisiran.
Meskipun status operasi resmi ditutup, pihak berwenang menegaskan bahwa peluang peninjauan kembali tetap terbuka jika di kemudian hari ditemukan petunjuk sahih dari masyarakat atau nelayan yang melintasi jalur perairan tersebut.
"Namun, bilamana ada informasi dari masyarakat, baik nelayan, atau kapal yang melintas atau pihak manapun, operasi ini bisa dihidupkan kembali atau dilaksanakan kembali bilamana ada penemuan petunjuk baru," kata Andra menambahkan.
Pemerintah Provinsi Banten turut menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh personel gabungan yang mendedikasikan waktu dan tenaga dalam misi kemanusiaan ini, serta menyampaikan empati mendalam kepada keluarga korban yang masih menantikan kepastian kabar.










