TVRINews, Jakarta
BMKG melaporkan adanya peningkatan aktivitas gelombang laut yang terdeteksi sebagai dampak lanjutan gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang berpusat di Mindanao, Filipina. Pemantauan terbaru menunjukkan kenaikan tinggi muka air laut di beberapa titik pesisir wilayah Indonesia bagian timur.
Berdasarkan data alat pengukur pasang surut (tide gauge), gelombang tsunami dengan ketinggian tertinggi tercatat di wilayah Talengan, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, dengan tinggi mencapai 0,75 meter atau 75 sentimeter pada pukul 08.20 WIB.
Catatan tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan pemantauan awal yang sebelumnya mencatat gelombang masih berada di bawah 20 sentimeter di wilayah Talaud dan Halmahera Barat.
Direktur terkait BMKG menyebutkan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari proses perambatan gelombang tsunami yang dapat mengalami variasi ketinggian di setiap wilayah yang dilalui.
“Dinamika gelombang tsunami memang tidak seragam. Ada lokasi yang mengalami peningkatan ketinggian seiring perambatan energi gelombang,” demikian keterangan BMKG dalam laporan pemantauan terbarunya, Senin, 8 Juni 2026.
Selain di Talengan, BMKG juga mencatat sejumlah titik lain yang mengalami kenaikan muka air laut, di antaranya:
- Tahuna, Kepulauan Sangihe (Sulawesi Utara) pada pukul 06.58 WIB dengan tinggi gelombang 0,30 meter.
- Paleleh, Kabupaten Buol (Sulawesi Tengah) pada pukul 07.34 WIB dengan tinggi 0,45 meter.
- Tanjung Sidupa, Bolaang Mongondow Utara (Sulawesi Utara) pada pukul 07.39 WIB dengan tinggi 0,32 meter.
BMKG menegaskan bahwa pemantauan masih terus dilakukan secara real time di seluruh stasiun pengamatan, mengingat karakteristik tsunami yang dapat mengalami fluktuasi dan perulangan gelombang.
Masyarakat di wilayah pesisir diimbau tetap waspada dan menjauhi area pantai hingga status peringatan dinyatakan resmi dicabut.










