TVRINews, Jakarta
Pemerintah dorong penguatan ketahanan keluarga dan sistem rujukan terintegrasi guna menekan angka risiko kesehatan mental pada remaja.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menekankan bahwa ketahanan keluarga merupakan kunci fundamental dalam mencegah perilaku berisiko tinggi, termasuk keinginan untuk mengakhiri hidup pada anak dan remaja. Ketahanan keluarga berperan sebagai benteng utama dalam mendeteksi dan menangani gangguan kesehatan mental sejak dini.
Deputi Strategi Kebijakan Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana Kemendukbangga, Ukik Kusuma Kurniawan, menjelaskan bahwa tindakan mengakhiri hidup bukanlah peristiwa tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai tekanan hidup, stres berkepanjangan, dan gangguan mental.
"Keinginan mengakhiri hidup bukan sekadar persoalan individu, melainkan masalah kesehatan masyarakat yang dipengaruhi interaksi faktor psikologis anak, lingkungan keluarga, sekolah, hingga sosial," ujar Ukik, dikutip Senin, 6 Juli 2026.
Tren Kenaikan yang Mengkhawatirkan
Data Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan drastis persentase siswa yang mencoba mengakhiri hidup, dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023. Kelompok usia 11–17 tahun diidentifikasi sebagai kelompok yang paling rentan terhadap masalah ini.
Berdasarkan kajian peneliti Kemendukbangga, Teguh Santoso dan Indira Adithyanti, fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Sebelum mencapai fase krisis, anak biasanya menunjukkan gejala akumulasi tekanan hidup. Oleh karena itu, peran aktif orang tua dan keluarga dalam mendeteksi tanda-tanda awal menjadi langkah pencegahan yang paling krusial.
Integrasi Kebijakan Lintas Sektor
Menghadapi tantangan kompleks seperti dampak digitalisasi terhadap pola pengasuhan hingga konflik keluarga, Ukik menekankan bahwa pendekatan sektoral tidak lagi memadai. Pemerintah kini mendorong kebijakan yang komprehensif, preventif, dan berbasis siklus kehidupan keluarga.
Kajian Kemendukbangga merekomendasikan sejumlah langkah strategis:
* Penguatan Ketahanan Keluarga: Sebagai pondasi utama pendampingan anak.
* Penguatan Layanan Konseling: Optimalisasi peran konselor di sekolah.
* Peningkatan Kapasitas: Pelatihan bagi guru dan tenaga kesehatan dalam menangani isu kesehatan mental remaja.
* Sistem Rujukan Terintegrasi: Memastikan anak mendapatkan dukungan segera setelah tanda-tanda gangguan mental terdeteksi.
Investasi untuk Bonus Demografi
Pembangunan keluarga yang kokoh dinilai sangat menentukan keberhasilan Indonesia dalam memanfaatkan bonus demografi. Menurut Ukik, bonus demografi hanya akan menjadi keuntungan jika pembangunan keluarga mampu menghasilkan generasi yang sehat, berkarakter, produktif, dan memiliki daya saing tinggi.
"Tantangan terbesar kita adalah bagaimana mengubah berbagai temuan riset menjadi kebijakan yang terukur, implementatif, dan berdampak nyata bagi kehidupan keluarga Indonesia," tutupnya.










