TVRINews, Jakarta
Generasi muda tidak hanya berperan dalam pembangunan infrastruktur di kawasan transmigrasi, tetapi juga menjadi penggerak perubahan melalui pendekatan sosial, budaya, dan pemberdayaan masyarakat. Semangat tersebut ditunjukkan oleh dua peserta termuda Tim Ekspedisi Patriot, Dania Putri Paramitha (21) dari Universitas Diponegoro dan Intan Mareta Wahyudiyanti (20) dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Selama bertugas di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, Dania mengaku memperoleh pengalaman berharga dalam memahami keberagaman budaya dan kehidupan sosial masyarakat adat maupun transmigran.

Menurutnya, pengabdian di kawasan transmigrasi bukan hanya tentang menjalankan program kerja, tetapi juga membangun komunikasi, mendengarkan aspirasi masyarakat, dan memahami persoalan yang dihadapi warga.
"Saya ingin mengenal lebih dalam mengenai keberagaman budaya dan kehidupan sosial yang terbentuk dari interaksi antara transmigran dengan masyarakat lokal di Senggi. Selain itu, saya juga ingin berpartisipasi dalam akselerasi transformasi transmigrasi di Indonesia," ujar Dania dalam keterangan tertulis, dikutip dari siaran pers yang diterima tvrinews.com, Sabtu, 25 Juli 2026.
Ia berharap kehadirannya di Senggi tidak hanya memberikan pengalaman pribadi, tetapi juga meninggalkan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
Sementara itu, Intan kembali dipercaya bergabung dalam Tim Ekspedisi Patriot dan bertugas di kawasan transmigrasi Manokwari Selatan, Papua Barat, setelah sebelumnya mengikuti program serupa. Pengalaman tersebut mengubah pandangannya terhadap potensi kawasan transmigrasi yang, menurutnya, hanya dapat dipahami melalui interaksi langsung dengan masyarakat.
"Saya ingin turut mengembangkan potensi yang dimiliki kawasan tersebut, mendampingi masyarakat, serta berkolaborasi dalam menciptakan program yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat," kata Intan.
Intan menilai pembangunan berkelanjutan harus diawali dengan pemberdayaan masyarakat melalui penguatan potensi lokal, membangun kepercayaan diri warga, serta menciptakan ruang kolaborasi. Ia juga menilai pendekatan yang dilakukan generasi muda lebih mudah diterima oleh masyarakat karena bersifat adaptif, terbuka, dan penuh empati.
Menurutnya, generasi muda dalam Tim Ekspedisi Patriot bukan sekadar menjalankan pengabdian, tetapi juga berperan sebagai katalisator perubahan yang mampu mendorong kemandirian kawasan transmigrasi.
Bagi Dania dan Intan, Tim Ekspedisi Patriot menjadi ruang belajar yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kondisi nyata di lapangan.
Pengalaman tersebut sekaligus membuktikan bahwa transformasi kawasan transmigrasi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti hadir di tengah masyarakat, mendengarkan kebutuhan mereka, serta membangun kolaborasi untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.









