TVRINews, Bandung
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan bahwa keterlibatan orang tua menjadi faktor penting dalam penerapan pendekatan deep learning pada pendidikan anak usia dini (PAUD). Kolaborasi antara sekolah dan keluarga dinilai mampu menciptakan pengalaman belajar yang lebih bermakna sekaligus mendorong tumbuhnya rasa ingin tahu, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis anak.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Atip Latipulhayat sebelumnya menegaskan bahwa deep learning merupakan paradigma pembelajaran yang perlu diterapkan dalam sistem pendidikan nasional. Pendekatan ini menekankan pemahaman yang mendalam dibandingkan sekadar menghafal materi pelajaran.
"Deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, bukan hafalan. Kita ingin anak-anak kita tidak hanya membaca, tetapi memahami, tidak hanya menghitung, tetapi menganalisis, tidak hanya menghafal, tetapi mampu menerapkan dan berinovasi,"ujar Atip dalam keterangan yang diterima tvrinews, Rabu, 22 Juli 2026.
Penerapan pendekatan tersebut telah dilakukan di sejumlah taman kanak-kanak, salah satunya TK Bunda Ganesha. Kepala TK Bunda Ganesha, Susi Hindayani, menjelaskan bahwa sekolah menerapkan pembelajaran yang berpusat pada anak dengan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengeksplorasi, bertanya, menyampaikan pendapat, serta membangun pengetahuan melalui pengalaman langsung.
"Anak diberi kesempatan untuk bereksplorasi, bertanya, menyampaikan pendapat, dan membangun pengetahuannya sendiri," jelasnya.
Menurut Susi, konsep tersebut diwujudkan melalui pembelajaran berbasis proyek, aktivitas yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, kebebasan memilih kegiatan, serta penggunaan berbagai media yang mendorong eksplorasi dan perkembangan sensori motorik anak.
"Bagi kami, bermain adalah belajar. Kegiatan di sentra dirancang agar bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan,"ungkap Susi.
Selain pembelajaran di sekolah, TK Bunda Ganesha juga melibatkan orang tua dalam berbagai kegiatan agar proses belajar anak berlanjut di rumah. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan Hari Anak Nasional, ketika orang tua dan anak bersama-sama mengolah sampah daur ulang menjadi karya seni.
"Orang tua kami libatkan sebagai mitra belajar sehingga pengalaman belajar anak berlanjut di rumah,"tambahnya.
Susi mengakui tantangan utama dalam penerapan deep learning adalah menjaga konsistensi pelaksanaannya. Hal itu dilakukan melalui pemetaan minat dan perkembangan setiap anak serta penciptaan lingkungan belajar yang aman dan inklusif.
Pengalaman serupa juga diterapkan di TK Gagas Ceria. Kepala Sekolah TK Gagas Ceria, Catur Wulandari, menilai pendekatan deep learning membantu anak memahami konsep melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, dan karakter sejak dini.
"Anak belajar melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupannya sehingga tumbuh rasa ingin tahu, kemampuan berpikir, dan karakter sebagai bekal masa depan,"kata Catur.
Menurut Catur, guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan pertanyaan terbuka dan tantangan sesuai tahap perkembangan anak. Bermain tetap menjadi metode belajar utama karena dinilai mampu mengembangkan kemampuan berpikir, komunikasi, kerja sama, hingga pengelolaan emosi.
"Bermain adalah cara belajar yang paling alami. Melalui bermain, anak belajar memecahkan masalah, bekerja sama, berkomunikasi, mengelola emosi, sekaligus memahami berbagai konsep,"imbuhnya.
Ia menambahkan, keberhasilan penerapan deep learning tidak hanya diukur dari kemampuan akademik, tetapi juga dari keberanian anak mencoba hal baru, kemampuan bekerja sama, menyampaikan gagasan, serta menikmati proses belajar.
"Tantangan kami adalah membangun kesamaan pemahaman bahwa keberhasilan belajar juga diukur dari karakter, kemandirian, kemampuan berpikir, dan kebahagiaan anak. Karena itu, komunikasi dan kolaborasi dengan orang tua menjadi sangat penting,”tandasnya.










