TVRINews, Bandung
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Darat mulai mengembangkan layanan Bus Rapid Transit (BRT) Cekungan Bandung sebagai bagian dari Mass Transit Project (MASTRAN). Kehadiran sistem transportasi massal ini ditujukan untuk mempercepat waktu perjalanan, mengurangi kemacetan, serta menghadirkan layanan transportasi publik yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Pengembangan BRT menjadi salah satu solusi atas tingginya tingkat kemacetan di kawasan Bandung Raya. Berdasarkan hasil kajian, kecepatan rata-rata perjalanan di Bandung hanya mencapai sekitar 18 kilometer per jam. Kondisi tersebut menyebabkan pengguna jalan kehilangan waktu hingga 108 jam setiap tahun akibat kepadatan lalu lintas.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Aan Suhanan, mengatakan masyarakat membutuhkan moda transportasi umum yang tidak hanya nyaman, tetapi juga memiliki kepastian waktu tempuh.

“Masyarakat tidak hanya membutuhkan transportasi umum yang nyaman, tetapi juga memiliki waktu perjalanan yang pasti dan BRT dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi kemacetan. Karena itu, BRT Cekungan Bandung dirancang dengan jalur khusus, sistem operasi yang terintegrasi, dan dukungan Intelligent Transportation System (ITS) agar layanan menjadi lebih andal, cepat, dan konsisten," ujar Aan dalam keterangan yang diterima tvrinews, Rabu, 22 Juli 2026.
Saat ini, sejumlah infrastruktur pendukung BRT telah memasuki tahap pembangunan, meliputi depo, halte, jalur khusus BRT, serta penerapan Intelligent Transportation System (ITS). Teknologi tersebut akan digunakan untuk mengatur operasional layanan agar lebih efisien dan mampu memberikan kepastian waktu perjalanan bagi pengguna.
Menurut Aan, layanan BRT nantinya ditargetkan memiliki waktu tunggu maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan maksimal 15 menit di luar jam sibuk sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan transportasi yang lebih cepat dan andal.
“Layanan BRT Cekungan Bandung ditargetkan beroperasi dengan headway maksimal tujuh menit pada jam sibuk dan maksimal 15 menit pada jam tidak sibuk sehingga masyarakat dapat menikmati layanan yang lebih pasti, cepat, dan dapat diandalkan. Hal tersebut diharapkan dapat menjadi daya tarik utama untuk meningkatkan penggunaan transportasi publik sekaligus mengurangi kemacetan dan emisi di kawasan Bandung Raya,”jelasnya.
Proyek BRT Cekungan Bandung dikembangkan melalui kerja sama pendanaan antara Pemerintah Indonesia, World Bank, dan Agence Française de Développement (AFD).
Berdasarkan analisis World Bank, kehadiran layanan BRT diproyeksikan mampu memangkas rata-rata waktu perjalanan sekitar 11 persen, dari 45 menit menjadi 40 menit. Selain itu, sistem ini diperkirakan akan melayani sekitar 99 ribu penumpang setiap hari, dengan sekitar 21 persen pengguna berasal dari masyarakat yang beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum.
Aan menambahkan, selain mempercepat mobilitas masyarakat, pengembangan BRT juga diharapkan memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan aksesibilitas kawasan.
“Selain dapat mempercepat waktu perjalanan, pengembangan layanan BRT diharapkan dapat mengurangi kemacetan, menekan konsumsi bahan bakar dan emisi karbon hingga 196 ribu ton CO2 secara bertahap. Kami juga berharap BRT Cekungan Bandung sekaligus dapat meningkatkan akses masyarakat menuju pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik,”ucapnya.
Operations Manager Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, Alanna Simpson, menyatakan pihaknya siap terus mendukung Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Perhubungan dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, dalam mengembangkan sistem BRT di Cekungan Bandung guna meningkatkan mobilitas, konektivitas, dan kesejahteraan masyarakat.
Dukungan serupa juga disampaikan Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Fabien Penone. Ia menyebut AFD telah berperan dalam pengembangan sistem BRT Bandung bersama Kementerian Perhubungan dan Bank Dunia sebagai bagian dari kerja sama Indonesia dan Prancis di bidang transportasi publik dan pengelolaan perkotaan.
Menutup keterangannya, Aan berharap seluruh tahapan pembangunan dapat berjalan sesuai target sehingga masyarakat segera merasakan manfaat layanan transportasi massal tersebut.
“Kami optimistis dengan dukungan dan sinergi semua pihak, seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target. Sehingga masyarakat di kawasan Cekungan Bandung segera menikmati layanan yang lebih aman, nyaman, efisien, terintegrasi, dan berkelanjutan,” pungkas Aan.










