TVRINews, Jakarta
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Operasi tersebut dipusatkan di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya.
OMC dilakukan sebagai upaya meningkatkan curah hujan, menjaga kelembapan lahan gambut, serta menekan potensi muncul dan meluasnya titik api di wilayah rawan karhutla.
Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan KLH/BPLH, Dasrul Chaniago, mengatakan penanganan karhutla perlu mengedepankan langkah pencegahan dan kesiapsiagaan, bukan hanya bertindak ketika kebakaran sudah terjadi.
"Kita memahami bahwa pengendalian kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dilakukan hanya pada saat api telah muncul. Upaya pencegahan harus menjadi prioritas melalui pengelolaan kondisi lingkungan dan peningkatan kesiapsiagaan terhadap potensi terjadinya kebakaran,"ujar Dasrul dalam keterangan tertulis, dikutip, Minggu, 30 Agustus 2026.
Melalui OMC, pemerintah berupaya menjaga kondisi lingkungan di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi. Modifikasi cuaca dilakukan dengan memanfaatkan kondisi atmosfer untuk mendorong terjadinya hujan di wilayah sasaran.
Pemantauan Cuaca Dilakukan Intensif
Dalam pelaksanaannya, tim Meteopublik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan pemantauan kondisi cuaca secara intensif. Pemantauan meliputi pergerakan awan, arah angin, serta tingkat kelembapan udara untuk menentukan awan yang berpotensi disemai.
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, mengatakan akurasi informasi meteorologi menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pelaksanaan OMC.
"Operasi Modifikasi Cuaca membutuhkan dukungan informasi meteorologi yang akurat dan pemantauan secara terus-menerus. Setiap potensi awan yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian akan dioptimalkan untuk mendukung upaya pengendalian karhutla,"ungkap Budi.
Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, armada penerbangan KLH/BPLH bersama TNI Angkatan Udara melakukan penyemaian bahan higroskopis berupa 800 kilogram natrium klorida (NaCl) atau garam.
Penyemaian dilakukan pada ketinggian sekitar 6.000 hingga 7.000 kaki di atas wilayah sasaran, terutama di Kabupaten Pulang Pisau dan Kabupaten Katingan.
Langkah tersebut ditujukan untuk memicu pertumbuhan awan dan meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan tambahan curah hujan.
Libatkan Sejumlah Instansi
Pelaksanaan OMC menjadi bagian dari upaya terpadu pemerintah dalam mengendalikan karhutla di Kalimantan Tengah. Operasi ini melibatkan sejumlah instansi, di antaranya KLH/BPLH, Kementerian Kehutanan, BMKG, BNPB, TNI Angkatan Udara, serta pemerintah daerah.
Sinergi lintas sektor dilakukan untuk mendukung berbagai upaya pengendalian karhutla, mulai dari pencegahan, pemantauan kondisi lingkungan, hingga penanganan potensi titik api.
Melalui pelaksanaan OMC, pemerintah berupaya mempertahankan kelembapan ekosistem, meningkatkan curah hujan di wilayah sasaran, dan menekan risiko meluasnya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah.










