TVRINews, Tangerang
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq menilai olahraga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi anak untuk membangun karakter, mengembangkan potensi, serta menumbuhkan sikap sportif dan jujur.
Menurut Fajar, pembentukan karakter tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas. Olahraga, termasuk sepak bola, dapat memberikan pengalaman kepada anak untuk belajar disiplin, bekerja sama, menghormati orang lain, dan menjunjung sportivitas.
“Menang atau kalah itu nomor dua. Yang penting adalah sportivitas. Yang penting adalah adik-adik menikmati kegiatannya dengan gembira,”kata Fajar dalam keterangan yang diterima tvrinews, Minggu, 30 Agustus 2026.
Fajar mengatakan olahraga juga dapat membentuk budaya hidup yang disiplin dan sportif sejak usia dini.
“Dengan sepak bola kita bisa membangun budaya hidup yang disiplin. Budaya hidup yang sportif,”jelasnya.
Ia menilai kompetisi sepak bola usia dini seperti Rajawali Junior League (RJL) 2026 dapat menjadi wadah bagi anak untuk belajar dan mengembangkan diri. Menurutnya, pengalaman berkompetisi tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan, tetapi juga proses membangun karakter.
Fajar juga melihat kompetisi tersebut sebagai momentum untuk menemukan dan mengembangkan talenta olahraga anak. Kehadiran pemandu bakat dari berbagai klub sepak bola dapat memberikan kesempatan kepada peserta untuk menunjukkan kemampuan terbaik dan membuka peluang melanjutkan pembinaan ke jenjang berikutnya.
“Ajang ini adalah kesempatan adik-adik menunjukkan bakat-bakat terbaiknya. Siapa tahu nanti langsung dipanggil oleh klub-klub terbaik di Indonesia. Dan InsyaAllah menjadi pemain hebat di Indonesia,”ucapnya.
Fajar berharap kompetisi sepak bola usia dini dapat dilaksanakan secara rutin dan memiliki jangkauan yang lebih luas. Ia juga mendorong agar kegiatan tersebut terhubung dengan ekosistem pembibitan bakat sepak bola nasional.
“Saya menyarankan tentu ini bisa reguler tiap tahun, menjadi satu agenda kompetisi yang memang rutin. Yang kedua tentu skalanya diperluas. Dan tentu harapannya ini bisa terintegrasi dengan ekosistem pembibitan bakat sepak bola nasional,”tambahnya.
Menurut Fajar, pembinaan talenta olahraga membutuhkan ekosistem yang berkelanjutan agar anak-anak yang memiliki potensi dapat memperoleh kesempatan untuk berkembang.
Selain menjadi sarana pengembangan prestasi, Fajar menilai sepak bola memiliki nilai yang lebih luas karena dapat menumbuhkan rasa nasionalisme. Prestasi olahraga juga dapat menjadi salah satu cara mengharumkan nama Indonesia di tingkat internasional.
“Sepak bola itu juga bisa membangun nasionalisme dan juga bisa mengharumkan nama baik bangsa di dunia internasional. Itu hanya mungkin terjadi kalau kita punya ekosistem yang mendukung,”lanjutnya.
Fajar turut mengingatkan para orang tua agar memberikan dukungan kepada anak selama menjalani proses pembinaan olahraga. Menurutnya, anak perlu diberi ruang untuk menikmati proses, belajar dari pengalaman, serta tetap menjunjung nilai kejujuran dan sportivitas.
“Juara itu penting, tapi yang lebih penting adalah menjaga kejujuran,” tegasnya.
Rajawali Junior League (RJL) 2026 mengusung tema “Belajar, Berkompetisi, dan Tumbuh Bersama”. Kompetisi tersebut diikuti peserta kategori U-10 dari sekolah dasar di wilayah Tangerang Raya dan kategori U-13 dari sekolah sepak bola (SSB) di wilayah yang sama.
Kegiatan tersebut juga melibatkan sekolah, guru pendamping, pelatih, orang tua, komunitas sepak bola, mitra, serta media sebagai bagian dari dukungan terhadap pembinaan olahraga anak.
Melalui kompetisi seperti RJL, Fajar berharap olahraga dapat terus ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan yang membantu anak tumbuh tidak hanya menjadi atlet berprestasi, tetapi juga memiliki karakter kuat, disiplin, sportif, dan jujur.










