TVRINews, Jakarta
Penerapan teknologi Smart Board atau papan interaktif digital di SLB-A Pembina Tingkat Nasional Jakarta menghadirkan perubahan besar dalam proses belajar siswa tunanetra. Tak hanya mendukung pembelajaran inklusif, perangkat ini juga menunjukkan komitmen negara terhadap akses pendidikan yang setara bagi penyandang disabilitas.
Fahmi Budiansyah, salah satu guru di SLB tersebut, mengaku terkesan dengan fitur-fitur aksesibilitas yang tersedia dalam papan digital tersebut. Ia menyebut, teknologi ini menjadi alat bantu pengajaran yang sangat relevan bagi siswa dengan keterbatasan penglihatan.
“Papan interaktif ini sudah dilengkapi fitur aksesibilitas, salah satunya tap pad dengan pembaca layar. Ini sangat membantu siswa tunanetra agar bisa berinteraksi langsung dengan materi yang disajikan,” ujar Fahmi saat ditemui di sekolah, pekan ini.
Baca Juga: Perpres AI Masih Menunggu Izin, Target Rampung Oktober 2025
Fahmi menjelaskan bahwa papan interaktif ini digunakan untuk berbagai keperluan belajar, mulai dari kuis interaktif, pencarian materi audio-visual, hingga fitur screen sharing yang memungkinkan perangkat siswa terhubung langsung ke papan digital.
“Anak-anak bisa eksplorasi isi papan, nonton video, dengar audio, dan bahkan screen share dari laptop mereka. Ini memudahkan kami para guru untuk memantau kegiatan belajar secara real-time,” katanya.
Meski sempat kebingungan di awal, Fahmi akhirnya mengetahui bahwa sistem operasi papan interaktif tersebut mirip dengan Android, sehingga ia dapat mengaktifkan fitur pembaca layar secara mandiri. Setelah mempelajari sistemnya, Fahmi kemudian mengenalkannya ke para siswa.
“Ternyata anak-anak bisa mengaksesnya sendiri, bahkan ada yang langsung buka YouTube. Ini luar biasa untuk siswa tunanetra,” tambahnya.
Fahmi juga menceritakan bagaimana Smart Board menjadi solusi saat salah satu muridnya, Gres, mengalami kendala dengan laptopnya yang mengalami gangguan layar.
“Kami sambungkan saja laptop Gres ke papan interaktif. Jadi tetap bisa belajar tanpa hambatan. Ini bentuk nyata bahwa teknologi bisa menjawab tantangan pembelajaran anak-anak berkebutuhan khusus,” ujarnya.
Atas bantuan fasilitas dari pemerintah, Fahmi menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menurutnya telah menunjukkan perhatian nyata terhadap pendidikan inklusif.
“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo yang telah peduli terhadap pendidikan anak-anak disabilitas. Aksesibilitas dalam pendidikan adalah kunci negara maju. Ini langkah besar,” ungkapnya.
Fahmi berharap, program penyediaan papan interaktif ini tidak berhenti di satuan pendidikan saja, tetapi juga bisa diterapkan di seluruh jenjang SLB-A dari tingkat TKLB hingga SMALB di seluruh Indonesia.
“Semoga ke depan, semua anak berkebutuhan khusus mendapat hak belajar yang setara lewat teknologi seperti ini,” tutup Fahmi.










