TVRINews, Jakarta
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Kementerian PPN/Bappenas telah menyiapkan skema baru untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam mencetak tenaga kerja yang siap bersaing di pasar internasional. Di mana, saat ini keduanya tengah menyusun model pengembangan talenta yang menghubungkan pendidikan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja global.
Langkah ini dilakukan di tengah besarnya permintaan tenaga kerja Indonesia di berbagai negara. Di mana, data SIP2MI yang disampaikan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) menunjukkan terdapat 327.658 peluang kerja luar negeri hingga April 2026. Sebanyak 258.471 di antaranya atau 78,88 persen masih terbuka.
Selain itu, kebutuhan tersebut mencakup sejumlah bidang, mulai dari caregiver, perawat, dan welder hingga manufaktur, konstruksi, perikanan, serta sektor hospitality. Besarnya peluang tersebut dinilai perlu diimbangi dengan sistem penyiapan tenaga kerja yang mampu memastikan lulusan memiliki keterampilan, sertifikasi, dan kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan.
Sebenarnya, sejumlah perguruan tinggi telah menjalankan fungsi tersebut. Pada 2025, sekitar 68 kampus tercatat memiliki Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) atau lembaga sejenis. Dari program yang berjalan, sekitar 1.957 talenta telah dikirim untuk bekerja di berbagai negara.
Kemdiktisaintek dan Bappenas kini mendorong agar pengalaman tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pengembangan talenta yang lebih terintegrasi.
Pembahasan mengenai langkah tersebut dilakukan Wamendiktisaintek Fauzan bersama Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Kamis (13/8). Pertemuan tersebut membahas rancangan kebijakan dan mekanisme pelaksanaan pengembangan talenta perguruan tinggi untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja global.
Program ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto terkait penyusunan konsep pendidikan vokasi terpadu. Pemerintah ingin konsep tersebut mampu menghasilkan Pekerja Migran Indonesia yang memiliki keahlian teknis sekaligus kompetensi profesional.
Perguruan tinggi vokasi menjadi salah satu bagian penting dalam skema karena memiliki pengalaman dalam pendidikan berbasis keterampilan. Namun, keterlibatan program tidak akan dibatasi hanya untuk kampus vokasi. Perguruan tinggi yang memiliki kapasitas dan kelembagaan pendukung juga dapat dilibatkan, termasuk yang telah memiliki LPK atau lembaga pelatihan sejenis.
Dalam pelaksanaannya, Kemdiktisaintek akan memperkuat pemetaan program studi dan lulusan, kompetensi serta sertifikasi, data tracer study, hingga kerja sama internasional. Langkah tersebut diharapkan membuat proses penyiapan tenaga kerja lebih sesuai dengan kebutuhan sektor pekerjaan dan negara tujuan.
Pemerintah juga membahas rencana pilot project di sejumlah perguruan tinggi. Model tersebut akan disesuaikan dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing kampus serta sektor pekerjaan yang diprioritaskan.
“Kami ingin memastikan bahwa skema intervensi jangka pendek maupun jangka menengah ini berdampak menyeluruh. Karena itu, pendekatannya tidak hanya diarahkan pada perguruan tinggi vokasi, tetapi dapat melibatkan perguruan tinggi yang memiliki kapasitas dan kelembagaan untuk menyiapkan talenta sesuai kebutuhan pasar kerja global,” ujar Wamen Fauzan pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Wamen PPN/Bappenas Febrian Alphyanto Ruddyard menyatakan dukungan terhadap penguatan pendidikan tinggi sebagai bagian dari penyiapan sumber daya manusia untuk pasar kerja global. Menurutnya, pendidikan vokasi dan unit pelatihan yang telah berkembang di sejumlah kampus perlu disinergikan agar memberikan dampak yang lebih luas.
Selain menyusun skema program, kedua pihak juga menetapkan pembahasan mengenai sektor dan program studi prioritas. Penentuannya akan mengacu pada kebutuhan pasar kerja internasional serta keunggulan yang dimiliki perguruan tinggi.
Sinergi tersebut diharapkan memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai salah satu pintu masuk bagi talenta Indonesia menuju pasar kerja global, sekaligus mendukung arah kebijakan Diktisaintek Berdampak dalam menghasilkan sumber daya manusia yang kompeten dan relevan dengan kebutuhan pembangunan.










