TVRINews, Denpasar
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie terus mengajak mahasiswa, untuk tidak memandang kemampuan bahasa asing sekadar sebagai keterampilan komunikasi. Pesan tersebut disampaikan Stella saat menghadiri 2026 Annual Conference of Global Language Teacher Education Association (GCLTEA) & International Symposium Chinese Language Education.
Menurutnya, penguasaan bahasa, termasuk bahasa Mandarin, dapat menjadi investasi jangka panjang yang membuka peluang di tingkat global sekaligus melatih kemampuan kognitif. Tak hanya itu, ia juga mengajak mahasiswa dan tenaga pendidik memahami proses belajar bahasa dari sudut pandang ilmiah.
Ia mengatakan, manfaat dari ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi tidak selalu dapat diprediksi sejak awal. Pengetahuan yang terlihat tidak berkaitan dengan kebutuhan saat ini justru dapat menjadi bekal penting pada masa mendatang.
Pengalaman tersebut juga dirasakan Stella. Ia mulai mempelajari bahasa Mandarin ketika menempuh pendidikan di Harvard University pada 1999. Kala itu, ia belum mengetahui bahwa kemampuan tersebut nantinya akan membantunya menjalankan berbagai aktivitas di tingkat internasional.
“Segala pengetahuan yang kita dapatkan di universitas, kita tidak tahu kapan akan berguna. Siapa yang tahu kemampuan yang kita pelajari hari ini akan menjadi sangat penting di masa depan,” kata Stella kutip Jumat, 14 Agustus 2026.
Ia menambahkan, kemampuan bahasa Mandarin yang diperolehnya saat masih menjadi mahasiswa kemudian turut mendukung kiprahnya di tingkat global, termasuk ketika mendampingi Presiden Republik Indonesia dalam sejumlah agenda dan pertemuan internasional.
Dari perspektif sains kognitif, Stella menjelaskan bahwa tidak ada bahasa yang secara mutlak lebih sulit dipelajari dibandingkan bahasa lainnya. Tantangan dalam mempelajari bahasa baru umumnya muncul karena adanya perbedaan antara bahasa yang telah dikuasai seseorang dengan bahasa yang sedang dipelajari.
Salah satu contohnya adalah bahasa Mandarin bagi penutur bahasa Indonesia. Bahasa Mandarin menggunakan sistem tonal sehingga pelajar harus memproses makna kata sekaligus memperhatikan perubahan nada.
“Bahasa Mandarin adalah bahasa tonal. Ketika kita belajar bahasa Mandarin, kita harus mempelajari makna dan nada secara bersamaan. Ini membutuhkan proses belajar yang unik karena otak kita harus membangun cara kerja baru dalam memproses bahasa,” ujarnya.
Menurut Stella, penelitian mengenai pembelajaran bahasa juga memperlihatkan bahwa proses mempelajari bahasa baru dapat memengaruhi struktur dan cara kerja otak. Kemampuan tersebut tidak berhenti berkembang hanya karena seseorang telah memasuki usia dewasa.
Artinya, kemampuan belajar tetap dapat dikembangkan sepanjang kehidupan melalui latihan yang berkelanjutan dan lingkungan pembelajaran yang mendukung.
Dalam perkembangan pendidikan yang semakin bersinggungan dengan AI, Stella melihat teknologi tersebut dapat memberikan manfaat besar. AI, misalnya, dapat membantu memberikan umpan balik secara cepat dan lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Namun, ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh dimaknai sebagai pengganti interaksi manusia. Proses pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa, tetap membutuhkan komunikasi dan interaksi sosial secara langsung.
Karena itu, pemanfaatan AI di perguruan tinggi menurut Stella sebaiknya diarahkan untuk memperkuat proses belajar. Teknologi dapat menjadi alat bantu bagi pendidik untuk memperluas jangkauan pembelajaran, sementara hubungan antarmanusia tetap menjadi fondasi penting dalam membangun kemampuan kognitif dan karakter mahasiswa.










