TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) saat ini tengah mengkaji penerapan teknologi pengolahan sampah yang dinilai berpotensi dapat diterapkan di Kota Bandung, Jawa Barat. Di mana, rencana tersebut telah dibahas Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto saat bertemu Wali Kota Bandung Muhammad Farhan dan Chief Technology Officer (CTO) Danantara Sigit P. Santosa.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Brian menuturkan jika tim kajian telah menemukan alternatif teknologi yang dinilai menjanjikan. Di mana, kota Bandung diproyeksikan menjadi lokasi awal untuk menguji penerapan teknologi tersebut sekaligus melihat efektivitasnya secara langsung.
“Tim kajian untuk pengelolaan sampah menemukan terobosan baru yang sangat menjanjikan. Kita ingin coba pertama di Bandung. Dari situ, kita akan bisa menghitung dan menganalisis teknologi yang paling sesuai,” kata Brian kutip pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Lebih lanjut, ia menuturkan nantinya teknologi yang akan digunakan tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Kajian mencakup karakteristik sampah, kemampuan pengolahan, kebutuhan lahan, hingga aspek teknis lainnya.
Salah satu opsi yang dibahas adalah penguatan fasilitas pemilahan sampah. Hasil pemilahan nantinya dapat diarahkan untuk berbagai proses pemanfaatan, termasuk diolah menjadi Solid Recovered Fuel (SRF).
Konsep tersebut juga diarahkan untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir. Pengolahan sampah sedapat mungkin dilakukan lebih dekat dengan sumbernya sehingga volume sampah yang harus dikirim ke lokasi akhir dapat ditekan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan Pemkot Bandung siap mengambil bagian dalam upaya tersebut. Namun, ia menekankan bahwa pemilihan teknologi dan lokasi pengolahan harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan serta masyarakat sekitar.
Kapasitas fasilitas juga menjadi bagian dari pembahasan. Pemerintah bersama pihak terkait akan melihat kebutuhan pengolahan sampah di Bandung sebelum menentukan skema yang paling sesuai.
Kemdiktisaintek menilai tidak ada satu teknologi yang otomatis dapat diterapkan di seluruh daerah. Karena itu, proses pengkajian diperlukan untuk memastikan teknologi yang dipilih mampu menjawab karakteristik persoalan sampah di Bandung.
Selain pemerintah daerah, kolaborasi dengan pengembang teknologi dan pihak lain yang memiliki kompetensi di bidang persampahan juga akan diperkuat. Upaya tersebut diharapkan dapat menghasilkan model pengelolaan sampah berbasis teknologi yang efektif sekaligus berkelanjutan.










