TVRINews, Bekasi
Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menitipkan empat pesan penting untuk dilaksanakan oleh para pengelola Barang Milik Negara (BMN) Sekolah Rakyat. Hal ini ditekankan karena masa depan para siswa berada di tangan para pengelola aset tersebut.
"Yang kita kelola bukan sekadar barang, tetapi harapan anak-anak Indonesia," ujar Gus Ipul saat membuka Pelatihan Pengelolaan Barang Milik Negara bagi Pengelola BMN Sekolah Rakyat Tahun 2026 di Bekasi, Rabu 6 Mei 2026.
Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan program strategis nasional untuk memperluas akses pendidikan dan layanan sosial bagi anak-anak dari keluarga rentan, khususnya kelompok desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Oleh karena itu, pengelolaan sarana dan prasarana harus dilakukan secara tertib dan profesional.

“Ini adalah gagasan sekaligus program strategis Presiden Prabowo sebagai bagian dari proses pengentasan kemiskinan. Sekolah Rakyat dirancang untuk memotong mata rantai kemiskinan," katanya.
Dalam arahannya, Gus Ipul menekankan empat poin utama. Pertama, mengubah cara pandang terhadap BMN sebagai instrumen layanan negara.
“BMN bukan sekadar urusan administrasi dan inventaris, tetapi instrumen layanan negara,” tegasnya.
Kedua, memastikan tata kelola yang tertib dan akuntabel. Gus Ipul mengingatkan bahwa Sekolah Rakyat telah menjadi sorotan publik, sehingga pencatatan harus dilakukan secara rapi.
“Administrasi harus rapi, pencatatan harus lengkap, pengelolaan harus tertib, dan pengadaan harus akuntabel. Catat apa yang kamu kerjakan, kerjakan apa yang kamu catat,” pesannya.
Poin ketiga adalah merespons cepat setiap evaluasi dan temuan. Ia mengingatkan bahwa temuan administrasi merupakan alarm untuk perbaikan di masa mendatang.
“Kalau ada masalah, cepat diidentifikasi, cepat dilengkapi, cepat dibenahi, dan jangan diulangi,” tuturnya.
Keempat, membangun budaya tertib dan transparan sejak awal guna menghindari masalah birokrasi yang lebih besar. Sebagai penegasan, Gus Ipul mengingatkan bahwa BMN adalah milik rakyat yang harus dijaga sebagai amanah.
“Negara sudah hadir penuh untuk siswa Sekolah Rakyat. Pastikan semua itu tercatat, terawat, dan bermanfaat. Jaga aset negara seperti menjaga amanah rakyat. Jangan wariskan masalah administrasi ke tahun berikutnya. Yang kita kelola bukan sekadar barang, tetapi harapan anak-anak Indonesia,” tutupnya.
Pelatihan ini diikuti oleh 332 peserta yang terdiri dari perwakilan wakil kepala sekolah bidang sarana prasarana dan pengelola barang dari Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas peserta dalam penatausahaan aset dan identifikasi risiko pengelolaan BMN.










