TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 3.055 gempa susulan terjadi setelah gempa utama yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Gempa susulan terbesar tercatat mencapai M 6,2, sedangkan yang terkecil berkekuatan M 1,1.
Dirjen Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto memastikan tidak akan ada gempa susulan yang berpotensi memicu tsunami dalam waktu dekat.
"Jadi kita pastikan bahwa dalam waktu dekat tidak akan ada gempa susulan yang bisa mengakibatkan terjadinya tsunami," kata Wijayanto di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Wijayanto menjelaskan, kekuatan gempa susulan cenderung lebih kecil dibandingkan gempa utama. Karena itu, tidak ada gempa susulan yang diperkirakan memiliki kekuatan lebih besar dari gempa utama.
Selain itu, Wijayanto menyebut aktivitas gempa susulan yang masih terjadi merupakan bagian dari proses menuju kestabilan lempeng.
"Gempa utama sudah 7,7 dan itu sudah menjadi gempa yang memiliki maksimum magnitudo yang terjadi di kerak dangkal. Kerak dangkal itu punya potensi magnitudo di sana 7,8, sekarang sudah rilis 7,7. Jadi seterusnya adalah gempa susulan yang akan menuju ke kestabilan lempeng itu sendiri," pungkasnya.










