TVRINews – Jakarta
Perum Bulog mengajukan penambahan penyaluran beras sebesar 1,3 juta ton untuk pasar khusus guna mengamankan pasokan pangan nasional dan mengantisipasi lonjakan harga menjelang akhir tahun 2026.
Perum Bulog secara resmi mengusulkan penambahan penyaluran beras sebesar 1,3 juta ton melalui skema pasar khusus, sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus memitigasi potensi kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang akhir tahun 2026.
Usulan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Kementerian Pertanian, dan Badan Pangan Nasional di Jakarta.
Data internal yang dipaparkan menunjukkan bahwa usulan pemenuhan kebutuhan beras nasional kini terbagi menjadi dua klaster besar, yakni Pasar Umum sebesar ±4,3 juta ton dan Pasar Khusus sebesar ±1,3 juta ton.
Total pasokan pada klaster Pasar Umum dialokasikan untuk aparatur sipil negara (ASN), TNI, dan Polri sebesar ±2,8 juta ton per tahun, serta pemenuhan kebutuhan bahan baku program Badan Gizi Nasional (BGN) sebesar ±1,5 juta ton per tahun.

(Paparan Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani (Foto: Youtube TVR. Parlemen))
"Tambahan penyaluran bantuan pangan beras direncanakan sebanyak empat alokasi dengan volume 1,3 juta ton.
Melalui penambahan ini, total penyaluran bantuan pangan sepanjang tahun 2026 diproyeksikan mencapai 1,9 juta ton," jelas Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani, dalam keterangannya di hadapan parlemen.
Manajemen Bulog merinci bahwa program pasar khusus ini ditargetkan menyasar 33 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP) dengan basis data alokasi periode Februari–Maret 2026.

(Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn.) Dr. Ahmad Rizal Ramdhani (Kanan) (Foto: Youtube TVR. Parlemen))
Distribusi tambahan tersebut dijadwalkan berlangsung secara bertahap dari bulan Agustus hingga November 2026, dengan penegasan bahwa komoditas yang disalurkan murni berupa beras tanpa menyertakan minyak goreng.
Di sisi lain, realisasi pengadaan setara beras domestik menunjukkan performa yang solid.
Hingga 18 Mei 2026, Bulog mencatat volume pengadaan telah menyentuh angka 2.821.603 ton.
Angka ini merefleksikan pertumbuhan signifikan sebesar 29 persen jika dibandingkan dengan realisasi periode yang sama pada tahun 2025, yang berada di posisi 2.192.323 ton.
Terkait performa penyerapan Gabah Kering Panen (GKP), Bulog mencatat total target tahunan berada pada angka 7.654.267 ton.
Hingga pertengahan Mei, akumulasi realisasi telah mencapai 5.465.886 ton atau setara dengan 71 persen dari target yang ditetapkan.
Berdasarkan tren bulanan, volume penyerapan GKP bergerak fluktuatif namun progresif, dengan rincian 6.067 ton pada Januari, melonjak menjadi 32.767 ton pada Februari, 54.461 ton pada Maret, dan mencapai puncaknya di bulan April sebesar 66.649 ton. Sementara itu, rerata harian hingga 18 Mei 2026 stabil di angka 37.364 ton.
Ahmad Rizal menekankan bahwa stabilitas pasokan di tingkat harian tetap menjadi prioritas utama di tengah dinamika pasar. Evaluasi grafik harian menunjukkan pergerakan pasokan yang adaptif terhadap situasi panen di berbagai wilayah Indonesia.
"Komitmen kami adalah untuk terus mendukung kesejahteraan petani lokal secara berkelanjutan sekaligus menjaga benteng ketahanan pangan nasional tetap kokoh," pungkasnya.










