TVRINews, Jakarta
Ketua Ikatan Alumni Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (IKA UNTIRTA) yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, menyambut baik langkah strategis Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) dalam memperkuat tata kelola pekerja migran. Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi Banten, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan IKA UNTIRTA.
Menurut Lamhot, sinergi lintas lembaga tersebut menjadi langkah penting untuk memastikan pekerja migran Indonesia tidak hanya mendapatkan akses kerja ke pasar global, tetapi juga memperoleh pelindungan, peningkatan kompetensi, serta pendampingan sejak sebelum keberangkatan hingga kembali ke tanah air.

“Kerja sama ini merupakan bentuk nyata bagaimana pemerintah, dunia industri, dan organisasi masyarakat dapat berjalan bersama untuk menciptakan ekosistem pekerja migran yang aman, profesional, dan berdaya saing global,” ujar Lamhot dalam kegiatan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kementerian P2MI, Pemprov Banten, Krakatau Steel Group, dan IKA UNTIRTA di Kantor Kementerian P2MI, Jakarta, Kamis 18 Juni 2026.
Acara tersebut turut dihadiri Menteri P2MI Mukhtarudin, Gubernur Banten Andra Soni beserta jajaran, Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Akbar Djohan, serta jajaran pengurus IKA UNTIRTA.
Lamhot mengatakan, potensi tenaga kerja Indonesia untuk mengisi kebutuhan pasar internasional masih sangat besar. Karena itu, diperlukan strategi bersama agar peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tenaga kerja Indonesia, khususnya generasi muda.
“Indonesia memiliki sumber daya manusia yang besar. Tantangannya adalah bagaimana memastikan mereka memiliki kompetensi yang sesuai kebutuhan industri global dan berangkat melalui jalur yang resmi serta terlindungi,” katanya.
Menteri P2MI Mukhtarudin dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa peluang kerja internasional masih terbuka lebar bagi pekerja Indonesia.
Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (SISKOP2MI) periode Januari 2025 hingga 12 Juni 2026, Kementerian P2MI telah memfasilitasi sebanyak 433.169 layanan penempatan pekerja migran Indonesia. Lima negara tujuan utama penempatan saat ini adalah Taiwan, Hongkong, Malaysia, Jepang, dan Singapura.
Sementara berdasarkan data Sistem Informasi Peluang Kerja Luar Negeri (SIP2MI) per 13 Juni 2026, terdapat 313.803 peluang kerja luar negeri yang tersedia. Namun, baru 76.907 posisi atau sekitar 24,51 persen yang berhasil terserap.
“Masih ada 236.896 peluang kerja yang terbuka. Ini menjadi kesempatan besar bagi tenaga kerja Indonesia yang memiliki kompetensi,” kata Mukhtarudin.
Ia menegaskan, kerja sama dengan Pemprov Banten, Krakatau Steel, dan IKA UNTIRTA diarahkan untuk membangun ekosistem migrasi yang aman, mulai dari peningkatan informasi, pelatihan, pelayanan, hingga pemberdayaan pekerja migran setelah kembali ke Indonesia.
Mukhtarudin menyebut Banten memiliki posisi strategis dalam pengembangan pekerja migran Indonesia karena memiliki jumlah SDM yang besar dan akses transportasi yang strategis, meski sekaligus menyimpan tantangan tersendiri. Pada periode 2025 hingga 12 Juni 2026, layanan penempatan pekerja migran asal Banten mencapai 5.542 layanan. Keberadaan pekerja migran ini juga memberikan dampak ekonomi signifikan melalui remitansi yang masuk ke daerah.
“Jika setiap pekerja migran mengirim rata-rata Rp5 juta per bulan, maka akan muncul multiplier effect bagi ekonomi lokal, menggerakkan UMKM, meningkatkan daya beli, dan memperkuat ekonomi keluarga,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa posisi strategis Banten juga membuat daerah tersebut memiliki risiko terhadap praktik penempatan ilegal dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Berdasarkan catatan Kementerian P2MI, BP3MI Banten menjadi salah satu wilayah dengan aktivitas pencegahan tinggi. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, BP3MI Banten telah melakukan 297 kegiatan pencegahan dan menyelamatkan 572 calon pekerja migran Indonesia dari keberangkatan nonprosedural.
Gubernur Banten Andra Soni menyambut baik kerja sama tersebut. Ia mengatakan, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi bagian penting dalam mewujudkan tenaga kerja Banten yang mampu bersaing di tingkat internasional.
“Kami berharap, sesuai arahan Presiden, dalam beberapa tahun ke depan dapat semakin banyak pekerja migran Indonesia asal Banten yang terlatih, terdidik, dan ditempatkan melalui mekanisme resmi,” kata Andra.
Ia menilai kolaborasi tersebut memiliki arti penting karena menyangkut peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus membuka kesempatan kerja yang lebih luas. Sebagai daerah industri, Banten dinilai memiliki modal besar untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan pasar global.
Melalui kerja sama ini, para pihak menyepakati sejumlah agenda utama, mulai dari penyebarluasan informasi peluang kerja internasional, pelatihan kompetensi, pelayanan penempatan terpadu, hingga pemberdayaan alumni pekerja migran.
Program ini juga sejalan dengan upaya pemerintah mencetak tenaga kerja terampil melalui program SMK Go Global dengan target penempatan 500 ribu tenaga kerja terampil hingga 2029 pada sektor-sektor strategis seperti caregiver, welder, hospitality, nurse, dan pengemudi profesional. Salah satu tujuan besarnya adalah menciptakan konsep brain circulation, di mana pekerja Indonesia yang memperoleh pengalaman global dapat kembali membawa pengetahuan untuk membangun ekonomi nasional.
Lamhot Sinaga menambahkan, IKA UNTIRTA siap mengambil peran dalam penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui jejaring alumni, dunia pendidikan, dan kolaborasi multi-pihak.
“Alumni memiliki tanggung jawab sosial untuk ikut memastikan generasi muda memiliki akses terhadap peluang yang lebih luas. Kerja sama ini harus menjadi gerakan nyata, bukan hanya berhenti pada dokumen,” kata Lamhot.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi, diharapkan tata kelola pekerja migran Indonesia dapat semakin kuat, profesional, dan mampu menjadikan tenaga kerja Indonesia sebagai kekuatan ekonomi baru di tingkat global.










