TVRINews, Bandung
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, mendorong penguatan sistem pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai spiritual, kearifan lokal, dan kepedulian terhadap lingkungan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menyiapkan generasi yang mampu menghadapi berbagai tantangan global di era multipolar.
Menurut Atip, dunia saat ini menghadapi tiga tantangan besar, yakni krisis ekologi akibat perubahan iklim, krisis budaya yang ditandai memudarnya identitas lokal, serta tantangan pendidikan yang masih didominasi pendekatan sekuler dan materialistik. Karena itu, diperlukan sistem pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan, nilai-nilai spiritual, dan kearifan lokal.
“Pendidikan harus meletakkan Allah sebagai pusat, manusia sebagai penjaga, dan alam sebagai amanah. Tujuan kita adalah menghasilkan lulusan yang cerdas secara intelektual, spiritual, dan bertanggung jawab secara ekologis (ecologically responsible),” kata Atip dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 30 Juli 2026.
Ia menjelaskan, konsep tersebut diwujudkan melalui penguatan literasi ekologis, kecerdasan spiritual, serta identitas budaya peserta didik. Implementasinya dilakukan dengan mengintegrasikan Fiqh al-Bi'ah dalam Pendidikan Agama Islam, memanfaatkan pantun, hikayat, dan peribahasa sebagai media pembelajaran, menghubungkan sains dengan nilai-nilai Al-Qur'an, hingga menerapkan pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan siswa dalam pelestarian lingkungan.
Selain itu, Kemendikdasmen juga terus meningkatkan kualitas ekosistem pendidikan melalui berbagai program, salah satunya revitalisasi satuan pendidikan agar tercipta lingkungan belajar yang aman, sehat, dan nyaman.
“Kami menargetkan revitalisasi 80.000 satuan pendidikan sampai akhir tahun ini. Salah satu syarat mutlaknya: wajib ada toilet yang layak. Toilet sekolah adalah cerminan peradaban,” tegasnya.
Atip menekankan bahwa pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada kemajuan teknologi. Pendidikan juga harus membentuk karakter peserta didik agar memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan dan kehidupan bermasyarakat.
“Ekoteologi Islam Melayu menawarkan alternatif bagi dunia: pembangunan yang disertai spiritualitas, kemajuan yang disertai nilai-nilai,” ucapnya.
Sementara itu, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Aan Hasanah, menilai pendidikan harus menjadi fondasi dalam membangun kesadaran peserta didik untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari pembentukan karakter.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat diperkuat melalui kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
“Alam bisa memenuhi kebutuhan manusia (need), tapi alam tidak akan pernah bisa memenuhi keserakahan manusia (greed). Pendidikan harus menjadi kompas moral bagi perilaku manusia terhadap semesta,” ungkap Aan.
Menutup pemaparannya, Atip mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kolaborasi dalam membangun sistem pendidikan yang mampu menjawab tantangan masa depan melalui penguatan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, pelestarian kearifan lokal, serta pemberdayaan sekolah dan masyarakat sebagai pusat ketahanan ekologi.
“Ekoteologi Islam Melayu bukan tentang kembali ke masa lalu, tapi peta jalan menuju masa depan. Kita harus memberdayakan setiap sekolah dan masjid menjadi pusat pertahanan ekologi,” pungkasnya.









