TVRINews, Depok
Ribuan siswa terbaik dari seluruh Indonesia mengikuti Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Pendidikan Menengah Tahun 2026 yang resmi dibuka di Depok, Jawa Barat. Di balik persaingan menuju gelar juara nasional, tersimpan berbagai kisah perjuangan para finalis yang berhasil melewati proses seleksi berjenjang.
Tahun ini, sebanyak 9.942 peserta mengikuti seleksi LKS mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota, hingga provinsi. Dari jumlah tersebut, hanya 1.121 peserta yang berhasil lolos ke tingkat nasional. Mereka akan berkompetisi pada 37 bidang lomba dan satu cabang eksibisi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang digelar secara hybrid pada 27 Juli hingga 1 Agustus 2026.
Salah satu finalis yang mencuri perhatian adalah Stefaris Woge, siswa kelas XI SMK Negeri 3 Nabire, Papua Tengah, yang berlaga pada bidang Jaringan Kabel. Setiap hari ia berjalan kaki sekitar satu jam menuju sekolah. Stefaris tinggal bersama tantenya di Nabire, sementara ibunya mencari nafkah dengan berjualan noken di Timika.
Perjalanan menuju tingkat nasional tidak berjalan mudah. Saat dinyatakan mewakili Papua Tengah, telepon genggam Stefaris rusak sehingga gurunya kesulitan menghubungi dirinya. Demi memastikan putranya dapat mengikuti seluruh rangkaian persiapan, sang ibu menyisihkan hasil berjualan noken untuk memperbaiki telepon tersebut.
“Saya sangat senang bisa sampai di Jakarta dan ikut ajang ini,” kata Stefaris dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 30 Juli 2026.

(Foto: Kemendikdasmen RI)
Kisah perjuangan serupa juga datang dari Natanael, finalis cabang Teknik Alat Berat asal Palu, Sulawesi Tengah. Demi mempersiapkan diri menghadapi LKS tingkat nasional, ia harus menghentikan sementara program praktik kerja lapangan (PKL) yang sedang dijalani. Keputusan tersebut membuat masa praktiknya berpotensi diulang pada semester berikutnya.
Hal yang sama dialami Marvel Anugerah dari Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Ia juga menghentikan sementara PKL demi mengikuti pelatihan intensif. Baginya, kesempatan tampil di tingkat nasional bukan sekadar mengejar prestasi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi keluarganya.
Di tengah padatnya jadwal latihan, para finalis tetap berupaya menerapkan tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), seperti bangun pagi, beribadah, berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, rajin belajar, bermasyarakat, dan tidur lebih awal. Mereka menyadari bahwa prestasi harus diimbangi dengan kondisi fisik yang tetap terjaga.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, mengatakan seluruh peserta yang berhasil mencapai tingkat nasional sejatinya telah menunjukkan kualitas, ketekunan, dan semangat belajar melalui proses seleksi yang panjang.
"Sejatinya, anak-anakku sekalian sudah sampai pada tingkat nasional, artinya sudah menjuarai tingkat provinsi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ini menjadi pengalaman belajar, kesempatan membangun jejaring dan memperluas wawasan serta meningkatkan disiplin dan membentuk karakter yang profesional," ujar Tatang.
Sementara itu, Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, menilai setiap finalis membawa kisah perjuangan yang patut diapresiasi karena keberhasilan mereka lahir dari dukungan keluarga, guru, sekolah, dan berbagai pihak.
"Jadikan LKS bukan sekadar ajang untuk meraih medali, tetapi sebagai ruang belajar, berkolaborasi, membangun jejaring, dan menunjukkan bahwa talenta vokasi Indonesia mampu bersaing di tingkat dunia," kata Irene.
LKS Pendidikan Menengah 2026 tidak hanya menjadi ajang kompetisi keterampilan, tetapi juga menjadi panggung bagi semangat, kerja keras, dan pengorbanan para siswa dari berbagai daerah untuk membuktikan bahwa talenta vokasi Indonesia mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.









