TVRINews, Depok
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono, menegaskan pembangunan kesehatan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 tidak dapat lagi hanya mengandalkan pelayanan kuratif.
Menurutnya, penguatan upaya promotif dan preventif harus menjadi prioritas dengan didukung sumber daya manusia kesehatan masyarakat yang mampu menghasilkan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy).
Prof. Dante menjelaskan bahwa sebagian besar faktor yang memengaruhi derajat kesehatan masyarakat justru berasal dari luar layanan kesehatan. Karena itu, pembangunan kesehatan memerlukan pendekatan yang lebih komprehensif.
"Kalau kita petakan masalah kesehatan menuju tahun 2045, layanan kesehatan hanya berkontribusi sekitar 20 persen. Selebihnya ditentukan oleh gaya hidup, kondisi sosial ekonomi, dan lingkungan. Karena itu, penyelesaian masalah kesehatan masyarakat membutuhkan pemimpin, peneliti, dan penyusun kebijakan dari bidang kesehatan masyarakat," ujar Prof. Dante dalam keterangan tertulis, dikutip, Kamis, 30 Juli 2026.
Ia menyebut Indonesia masih dihadapkan pada berbagai tantangan kesehatan, seperti tingginya angka perokok usia muda, rendahnya aktivitas fisik, meningkatnya gangguan kesehatan mental pada remaja, kemiskinan, stunting, urbanisasi, hingga dampak perubahan iklim.
Menurutnya, berbagai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui layanan pengobatan, melainkan membutuhkan kolaborasi lintas sektor serta kebijakan yang disusun berdasarkan hasil penelitian dan bukti ilmiah.
"Masalah-masalah tersebut tidak bisa diselesaikan hanya melalui pengobatan. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi lintas sektor dan policy brief yang kuat sebagai dasar pengambilan keputusan,"jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Prof. Dante juga memaparkan tiga peran strategis institusi pendidikan kesehatan masyarakat. Pertama, mencetak lulusan yang memiliki kemampuan kepemimpinan, analisis data, serta mampu mengeksekusi solusi kesehatan di lapangan.
Kedua, menjadi mitra pemerintah dalam mendukung transformasi kesehatan melalui rekomendasi kebijakan berbasis ilmu pengetahuan. Ketiga, memperkuat kolaborasi internasional untuk mendorong lahirnya kebijakan kesehatan global sekaligus membuka peluang kerja sama riset dan pendanaan.
"Kita membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan," ucapnya.
Prof. Dante juga menyoroti pentingnya peran lulusan kesehatan masyarakat dalam organisasi internasional. Menurutnya, banyak pemimpin lembaga kesehatan dunia berasal dari disiplin ilmu kesehatan masyarakat dan berkontribusi melalui kebijakan yang berdampak luas.
"Banyak tokoh dunia yang berlatar belakang kesehatan masyarakat memimpin organisasi internasional seperti WHO, GAVI, UNICEF, World Bank, maupun Global Fund. Mereka menunjukkan bahwa perubahan besar dalam kesehatan masyarakat lahir dari kebijakan yang tepat," lanjutnya.
Ia mengajak mahasiswa dan alumni kesehatan masyarakat untuk menjadi agen perubahan yang mampu menjawab berbagai tantangan kesehatan di masa depan.
"Bagi Alfred Sommer, public health adalah saving lives, millions at a time. Itulah esensi kesehatan masyarakat: menyelamatkan jutaan nyawa melalui kebijakan dan pencegahan," tuturnya.
Sementara itu, Dekan FKM Universitas Indonesia, Prof. Indri Hapsari Susilowati, mengatakan Dies Natalis ke-61 menjadi momentum bagi FKM UI untuk terus memperkuat kontribusi dalam pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta tata kelola yang berintegritas.
"Usia ke-61 menjadi momentum bagi FKM UI untuk terus bertumbuh dan memberikan dampak yang lebih luas bagi kesehatan Indonesia maupun dunia," ungkap Prof. Indri.
Pada kesempatan yang sama, Rektor Universitas Indonesia, Prof. Heri Hermansyah, menilai FKM UI telah menjadi salah satu pilar penting pembangunan kesehatan nasional melalui kontribusi para alumninya di berbagai sektor, termasuk pemerintahan, industri, dan penyusunan kebijakan publik.
"FKM UI memiliki potensi besar untuk menjadi pusat kepemimpinan public health Indonesia, bahkan dunia, melalui riset, inovasi, dan kebijakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," tandas Heri.









