TVRINews, Jakarta
Program Bedah Rumah yang dijalankan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) membawa perubahan nyata bagi keluarga masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di Kota Bogor.
Bantuan perbaikan rumah tersebut menghadirkan hunian yang lebih aman dan nyaman bagi masyarakat yang sebelumnya tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan.
Menteri PKP, Maruarar Sirait bersama Wali Kota Bogor, Dedie Abdu Rachim meninjau langsung hasil perbaikan rumah penerima bantuan Program Bedah Rumah di Kelurahan Sindang Barang, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Sabtu, 7 November 2026. Kunjungan ini dilakukan untuk memastikan program pemerintah memberikan manfaat nyata terhadap kualitas hunian masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut, Maruarar dan Dedie melihat rumah milik Indrawati, Eneng Suratmi, dan Mayendra yang telah selesai diperbaiki. Sebelum menerima bantuan, ketiga rumah tersebut mengalami kerusakan pada bagian struktur bangunan dan atap, sehingga kerap bocor saat hujan serta berisiko membahayakan penghuni.

Indrawati, seorang ibu rumah tangga yang tinggal bersama suami dan anaknya, menjadi salah satu penerima bantuan yang merasakan perubahan signifikan. Sebelum diperbaiki, rumahnya mengalami kerusakan pada sloof dan ring balok, dinding retak, serta atap yang sudah tidak layak. Bahkan, rangka atap berbahan bambu hampir ambruk saat proses perbaikan akan dilakukan.
Indrawati mengaku telah beberapa kali mengajukan bantuan perbaikan rumah, tetapi prosesnya membutuhkan waktu cukup lama. Ia bersyukur karena pada 2026 pengajuan hingga pengerjaan rumahnya berlangsung lebih cepat.
"Dulu kondisi rangka atapnya masih menggunakan bambu. Waktu tukang mau memperbaiki, kondisinya sudah mau ambruk. Tahun-tahun sebelumnya saya selalu mengajukan bantuan, tetapi prosesnya lambat dan berbelit. Alhamdulillah, tahun ini proses pengajuan sampai pengerjaannya sangat cepat," ujar Indrawati dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Minggu, 8 November 2026.
Manfaat Program Bedah Rumah juga dirasakan Eneng Suratmi, seorang penjual soto yang memiliki penghasilan sekitar Rp2,5 juta per bulan. Rumah yang dihuni bersama tiga anggota keluarganya sebelumnya mengalami kerusakan pada bagian sloof dan kolom, belum memiliki ring balok, serta kerap mengalami kebocoran akibat genteng yang rusak.
Setelah rumahnya diperbaiki, Eneng kini dapat menikmati hunian yang lebih nyaman, terutama saat hujan turun.
"Dulu kalau hujan rumah sering bocor. Alhamdulillah, sekarang kalau hujan sudah tidak bocor lagi," ungkap Eneng.
Sementara itu, Mayendra yang bekerja sebagai sopir angkutan umum dengan penghasilan sekitar Rp3 juta per bulan juga merasakan manfaat bantuan tersebut. Rumah yang dihuni bersama tiga anggota keluarganya sebelumnya memiliki dinding yang sebagian besar retak, kerusakan pada struktur bangunan, serta atap berbahan asbes yang rusak berat dan berisiko ambruk.
Perbaikan rumah melalui Program Bedah Rumah menjadi upaya membantu Mayendra dan keluarganya mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman dan layak.
Peningkatan kualitas hunian masyarakat ini sejalan dengan perluasan pelaksanaan Program Bedah Rumah di Kota Bogor. Pada 2025, alokasi bantuan tercatat sebanyak 188 unit, sedangkan pada 2026 meningkat menjadi 1.234 unit.
Selain memperbaiki kondisi fisik rumah, pemerintah juga mendorong pemberian kepastian hukum atas kepemilikan tanah bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui program sertipikasi tanah gratis.
Program tersebut dilaksanakan melalui kolaborasi Kementerian PKP dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), terutama bagi penerima bantuan Bedah Rumah yang belum memiliki sertipikat tanah.
Pada 2026, pemerintah menargetkan pemberian 1 juta sertipikat tanah gratis bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Melalui Program Bedah Rumah dan dukungan sertipikasi tanah, pemerintah berupaya tidak hanya menghadirkan hunian yang lebih layak, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas hidup serta memberikan kepastian hukum atas aset masyarakat.










