TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menjajaki kerja sama dengan Jepang untuk mengembangkan teknologi pengolahan limbah dan energi alternatif. Dikesempatan tersebut, membahas sejumlah peluang meliputi daur ulang limbah elektronik dan baterai bekas, pengolahan limbah plastik, serta pengembangan bioetanol.
Pembahasan tersebut berlangsung saat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menerima kunjungan Executive Director of the Technology and Innovation Strategy Center (TSC), New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO), Kikuo Kishimoto, di kantor Kemdiktisaintek.
Dalam pertemuan tersebut, Brian menekankan pentingnya percepatan pengembangan teknologi melalui kerja sama internasional dan keterlibatan industri. Menurutnya, Indonesia membutuhkan dukungan teknologi agar hasil penelitian dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan nasional.
“Kita harus berpikir cepat, Indonesia tengah menjajaki kerja sama dengan berbagai negara untuk mengembangkan industri kita,” tegas Brian, dikutip Rabu, 28 Oktober 2026.

(Foto: Diktisaintek)
Tak hanya itu, salah satu peluang kolaborasi yang dibahas adalah pemulihan material dari limbah elektronik dan baterai bekas. Material yang berhasil dipulihkan berpotensi dimanfaatkan kembali sebagai bahan baku industri, sehingga memiliki nilai tambah.
Kikuo Kishimoto menyampaikan bahwa penelitian mengenai pemulihan material dari baterai masih berada pada tahap awal. Namun, pihaknya membuka peluang pengembangan teknologi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia.
Pembahasan juga mencakup pemanfaatan limbah plastik melalui metode upcycling. Pendekatan ini memungkinkan material bekas diolah menjadi produk baru dengan nilai guna lebih tinggi. Salah satu opsi yang dibicarakan adalah mengolah botol plastik bekas menjadi material untuk digunakan kembali dalam proses industri.
Di sektor energi, Kemdiktisaintek dan NEDO turut membahas potensi pengembangan bioetanol sebagai energi alternatif. Agar dapat diterapkan secara luas, teknologi yang dikembangkan perlu mempertimbangkan daya saing harga dan kepastian pasar bagi produk yang dihasilkan.
Brian juga menyampaikan rencana untuk menjajaki komunikasi dengan perusahaan otomotif Jepang guna membahas kemungkinan dukungan industri terhadap pengembangan bioetanol di Indonesia.
Menurut Kemdiktisaintek, pengembangan berbagai teknologi tersebut membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, peneliti, pemerintah, dan dunia usaha. Perguruan tinggi dapat mendukung penelitian serta pengujian teknologi, sedangkan industri berperan dalam menilai kelayakan produksi dan peluang penerapannya.
Sebagai tindak lanjut, Kemdiktisaintek mendorong pemetaan kebutuhan riset, identifikasi teknologi yang relevan, serta penjajakan mitra industri potensial. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi Indonesia-Jepang dalam pengembangan teknologi yang mendukung kebutuhan energi dan penguatan industri nasional.










