TVRINews, Makassar
Kementerian Kebudayaan mendorong kolaborasi lintas sektor yang inklusif untuk memperkuat ekosistem dan apresiasi musik tanah air.
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi membuka ajang Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 yang dipusatkan di Hotel Claro, Makassar, Sulawesi Selatan. Perhelatan strategis ini menandai tonggak penting dalam perumusan tata kelola industri musik nasional secara menyeluruh, mulai dari hulu hingga hilir.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, saat membuka secara resmi KMI 2026, menegaskan bahwa tema yang diusung tahun ini, yaitu “Bergerak Bersama Mengimplementasikan Ekosistem Musik Indonesia yang Berdaulat”, mencerminkan komitmen kuat pemerintah untuk mewujudkan aksi nyata kolaborasi lintas sektor yang inklusif.

(Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon. [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud])
“Melalui KMI 2026, kita berangkat dari gagasan menuju implementasi, dari kumpulan rekomendasi menjadi program dan kebijakan, sehingga tidak berhenti pada rekomendasi semata. Kolaborasi nasional juga harus semakin terintegrasi sehingga musik Indonesia menjadi ekosistem yang kuat dari hulu hingga hilir, mulai dari pendidikan dan pengembangan talenta, penciptaan karya, produksi, dan distribusi, hingga perlindungan hak,” ungkap Menbud Fadli dalam siaran pers yang diterima tvrinews, Rabu, 28 Oktober 2026.
Tren Positif Musik Indonesia di Kancah Domestik dan Global
Dalam pemaparannya, Menbud Fadli menyoroti performa gemilang industri musik tanah air yang kini semakin berdaulat di negeri sendiri, di mana masyarakat menunjukkan apresiasi yang jauh lebih tinggi terhadap karya-karya musisi lokal dibandingkan musisi mancanegara.
Potensi besar tersebut turut didukung oleh data internasional yang impresif:
* Data Spotify 2025: Karya musisi Indonesia tercatat ditemukan dan diputar lebih dari 6,3 miliar kali oleh pendengar baru.
* Lonjakan Royalti: Pendapatan royalti musisi Indonesia mengalami kenaikan lebih dari 16% dibandingkan tahun sebelumnya.
* Penetrasi Pasar Global: Sekitar 60% dari total pendengar tersebut berasal dari luar negeri, dengan basis penggemar terbesar dari Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Malaysia, dan Inggris, membuktikan tingginya daya saing global musik Nusantara.
Program Strategis dan Kekayaan Megadiversity Musik Nusantara
Sebagai langkah konkret memperkuat ekosistem musik, Kementerian Kebudayaan menginisiasi berbagai program unggulan, salah satunya adalah Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) yang dirancang untuk menghidupkan kembali khazanah musik tradisi di berbagai kota serta memperluas partisipasi publik.
Indonesia sebagai negara peradaban dengan kekayaan budaya raksasa (megadiversity) memiliki spektrum musik yang sangat luas mulai dari warisan tradisi turun-temurun hingga mahakarya kontemporer dan lintas genre yang terus berinovasi memanfaatkan kemajuan teknologi informasi.

(Foto: TVRINews/HO-Kemenbud)
“Kita kerap melihat perpaduan antara musik tradisi dengan musik kontemporer yang merupakan sesuatu yang selalu baru dan menarik. Ke depannya, kreativitas itu semakin tidak terbatas dengan begitu banyaknya talenta-talenta yang ada di Indonesia, serta adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam tata kelola ekosistem musik,” tambah Menbud.
Komitmen Pemerintah sebagai Fasifikator dan Kolaborasi Inklusif
Senada dengan hal tersebut, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha Djumaryo, memaparkan arah dan tujuan strategis pelaksanaan KMI 2026.
Wamenbud Giring menegaskan mandat langsung dari Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah senantiasa hadir sebagai fasilitator aktif dalam memajukan ekosistem musik nasional, mencakup pembenahan infrastruktur, penyempurnaan regulasi, hingga penyediaan ruang dialog yang inklusif.
“Kami meyakini bahwa musik Indonesia punya potensi yang luar biasa besar untuk mewarnai dunia, karena kita punya kekayaan kebudayaan, keberagaman karya, serta kreativitas para musisi tanah air. Dan terdapat satu pola yang membuktikan bahwa semakin kita menunjukkan ciri khas Indonesia kita, justru dunia semakin memberikan apresiasi kepada musik kita,” tegas Wamenbud Giring.
Melalui penyelenggaraan KMI 2026 di Makassar, Kementerian Kebudayaan merangkul seluruh pemangku kepentingan, mulai dari kreator, musisi, akademisi, hingga pelaku industri untuk melahirkan kebijakan transformatif yang tidak hanya mendongkrak kesejahteraan dan pelindungan bagi para pelaku seni, tetapi juga menjadikan musik Nusantara sebagai identitas bangsa yang mendunia.










