TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menambah dukungan tenaga kesehatan untuk menangani krisis kesehatan pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 15 Agustus 2026.
Sebanyak 206 relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) dikerahkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan di wilayah terdampak. Mereka akan bertugas selama 14 hari di enam wilayah dengan dampak berat, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Sekretaris Jenderal Kemenkes, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, mengatakan penambahan tenaga kesehatan diperlukan untuk merespons kebutuhan medis masyarakat sekaligus membantu fasilitas kesehatan yang terdampak bencana.
"Saudara meninggalkan keluarga dan pekerjaan untuk hadir ketika masyarakat sangat membutuhkan bantuan. Terima kasih atas panggilan kemanusiaan ini," ujar Kunta dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 25 Agustus 2026.
Kunta juga memberikan tiga arahan kepada para relawan selama menjalankan tugas. Pertama, memprioritaskan identifikasi dan penanganan krisis medis di lapangan. Kedua, seluruh relawan dan unsur terkait harus bekerja sebagai satu tim tanpa membedakan latar belakang institusi. Ketiga, keselamatan relawan harus menjadi prioritas.
"Saudara berangkat untuk membantu korban, bukan menjadi korban berikutnya. Jangan menganggap kelelahan sebagai tanda pengabdian," tegas Kunta.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, Agus Jamaludin, menyebut 128 relawan tenaga kesehatan turut dikerahkan, yang terdiri atas dokter umum, dokter spesialis penyakit dalam, anak, bedah, dan ortopedi, serta perawat, bidan, dan tenaga farmasi.
Mereka akan diperkuat 78 dokter internsip yang sebelumnya telah berada di Pulau Flores.
Berdasarkan data Pusat Krisis Kesehatan per 23 Agustus 2026, gempa berdampak terhadap sekitar 1,9 juta jiwa di tujuh kabupaten/kota. Bencana tersebut menyebabkan 91 orang meninggal dunia, ratusan warga mengalami luka-luka, serta 161.874 orang mengungsi.
Gempa juga menyebabkan sejumlah fasilitas kesehatan mengalami gangguan sehingga penambahan tenaga medis dibutuhkan untuk menjaga layanan kesehatan tetap berjalan.
Salah satu relawan, Bidan Istiqomah, akan bertugas di Kabupaten Nagekeo. Bagi Istiqomah, penugasan tersebut merupakan kali kedua dirinya bergabung dalam TCK setelah sebelumnya membantu penanganan krisis di Tamiang, Aceh, pada Desember 2025.
Pengalaman di lokasi bencana sebelumnya justru mendorongnya untuk kembali terlibat dalam misi kemanusiaan.
"Kalau buat saya, menjadi relawan ini rasanya malah nagih (membuat ketagihan untuk mengabdi). Persiapannya yang paling utama adalah fisik dan obat-obatan pribadi. Harapannya, semoga semua warga di Ende bisa kita bantu dan lekas pulih," tuturnya.
Sementara itu, dokter spesialis ortopedi dari RS Fatmawati, Muhammad Amir Sahala, akan bertugas di RSUD Borong, Manggarai Timur. Ia menilai kebutuhan tenaga medis masih tinggi, khususnya untuk menangani korban dengan cedera akibat reruntuhan.
"Banyak sekali korban yang membutuhkan di tengah kekurangan tenaga kesehatan saat ini. Pasti kita akan jadi respons utama untuk membantu korban agar semua dapat tertangani dan mendapat perawatan yang terbaik," ungkap Amir.
Penambahan TCK diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan daerah yang telah menangani korban sejak awal bencana. Kehadiran relawan juga ditujukan untuk menjaga layanan kesehatan esensial tetap berlangsung hingga kapasitas fasilitas kesehatan di wilayah terdampak kembali pulih.










