TVRINews, Yogyakarta
Kajian ilmiah independen menunjukkan tinggi gelombang laut berada pada kategori sedang dan bukan merupakan kondisi ekstrem.
Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widodo Setiyo Pranowo, memaparkan hasil analisis ilmiah independen terkait kondisi dinamika laut dan gelombang di sekitar lokasi kecelakaan Kapal Motor Penumpang (KMP) Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa.
Berdasarkan hasil pemodelan operasional kelautan internasional yang disusun sebagai basis ilmiah tambahan bagi penyelidikan resmi, tercatat bahwa kondisi laut saat kejadian memang bergelombang, namun berada pada kategori sedang dan tidak termasuk gelombang ekstrem.
“Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter, dengan periode sekitar enam detik. Dalam klasifikasi keselamatan pelayaran yang digunakan dalam kajian, nilai tersebut termasuk kategori sedang (1,25–2,50 meter). Kategori tinggi dimulai pada 2,50 meter, sedangkan kategori sangat tinggi pada 4 meter,” ucap Widodo dalam keterangan siaran pers BRIN, dikutip Kamis, 17 September 2026.
Perlu dicatat bahwa analisis independen ini disusun untuk memberikan landasan ilmiah tambahan, sementara wewenang penuh untuk melakukan penyelidikan kecelakaan tetap berada di tangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) serta otoritas pelayaran terkait, sehingga kajian ini tidak dimaksudkan untuk menentukan penyebab tunggal maupun menetapkan pihak yang bertanggung jawab.
Karakteristik Angin dan Arah Datangnya Gelombang
Dari aspek meteorologi kelautan, kajian menunjukkan bahwa gelombang pada malam kejadian didominasi oleh angin setempat (mencapai sekitar 96 persen dari tinggi total), alih-alih gelombang alun (swell) yang merambat dari wilayah jauh.
Berdasarkan karakteristik dan periode gelombang tersebut, kecepatan angin permukaan di lokasi diperkirakan berada pada kisaran 6,4 hingga 8,3 meter per detik atau setara 12 hingga 16 knot, yang masuk dalam skala Beaufort 4 hingga 5.
Secara geometris, gelombang tercatat datang dari arah tenggara-timur pada kisaran 122 derajat. Kondisi ini membuat gelombang mengenai kapal dari arah samping (beam seas), yang secara fisik dapat memicu gerakan oleng secara berulang pada kapal.
Analisis Dinamika dan Stabilitas Kapal
Meskipun kapal diterpa gelombang dari arah samping, hasil analisis dinamika kapal menunjukkan bahwa periode gelombang berada di kisaran 5,66–6,47 detik. Angka ini berbeda dengan periode alami oleng kapal dengan estimasi ukuran panjang sekitar 119 meter dan lebar 21 meter yang berada pada rentang 11–18 detik. Perbedaan periode tersebut mengindikasikan bahwa tidak terbentuk penguatan oleng melalui mekanisme resonansi dalam skenario yang dianalisis.
Perhitungan kemiringan kapal akibat pengaruh gelombang diperkirakan mencapai sekitar 5,9 derajat pada kondisi umum, dan meningkat hingga 11,2–11,9 derajat pada pembebanan gelombang tertinggi. Sementara itu, kontribusi angin terhadap kemiringan kapal dihitung kurang dari setengah derajat.
“Angka-angka ini berada di bawah ambang kemiringan sekitar 25 derajat yang dalam kajian digunakan sebagai indikasi awal masuknya air melalui bukaan geladak, serta jauh di bawah kisaran 50–60 derajat yang dikaitkan dengan hilangnya kemampuan kapal untuk kembali tegak,” terang Widodo.
Rekomendasi Teknis untuk Operasi Pencarian (SAR)
Selain mengkaji penyebab dinamika laut saat insiden, analisis BRIN turut menyumbangkan temuan penting yang dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan operasi pencarian korban dan bangkai kapal:
1. Komponen Hanyut Stokes
Pergerakan gelombang diperkirakan menyumbang rata-rata 41,2 persen dari arus permukaan total. Oleh karena itu, prakiraan lintasan hanyut (drift trajectory) yang tidak memperhitungkan komponen gelombang berisiko menghasilkan estimasi area pencarian yang kurang akurat.
2. Siklus Pasang Surut Arus
Arus di lokasi kejadian teridentifikasi berbalik arah mengikuti siklus pasang surut sekitar 24 jam, sehingga pergerakan ini perlu diperhitungkan secara berkala dalam memperbarui sektor pencarian dari satu siklus ke siklus berikutnya.
3. Survei Bawah Air (Underwater Survey)
Dengan kedalaman laut di titik kejadian yang tercatat sekitar 27 meter, kondisi tersebut dinilai sangat memungkinkan untuk mendukung pelaksanaan survei bangkai kapal menggunakan teknologi modern.
Metode yang dapat diterapkan meliputi pemanfaatan multibeam echosounder, side-scan sonar, remotely operated vehicle (ROV), hingga penyelaman langsung, tentunya dengan tetap berpedoman pada prosedur dan kewenangan tim SAR serta penyelidik yang bertugas.










