TVRINews, Jakarta
Majelis Ulama Indonesia (MUI) menggerakkan serangkaian program pemulihan pascabencana di Sumatera dengan fokus pada penguatan pendidikan dan perbaikan hunian bagi warga terdampak. Tiga provinsi menjadi sasaran utama, yakni Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Penanggulangan Bencana, Kiai Mabroer, menyebut program pendidikan sebagai agenda pertama yang harus dipastikan berjalan. MUI, kata dia, mengupayakan agar para santri dan murid madrasah dapat kembali belajar tanpa hambatan.
“Kami ingin memastikan kegiatan belajar tidak terputus. Karena itu, bantuan perlengkapan sekolah dikerjakan bersama Baznas, sementara beasiswa bagi santri, siswa yatim, dan para guru kami tangani langsung,” jelas Kiai Mabroer dalam keterangannya, Senin, 4 Mei 2026.
Ia menambahkan, sejumlah lembaga pendidikan berbasis pesantren masih belum tercatat dalam sistem pendataan pemerintah. Kondisi itu mendorong MUI untuk turun langsung mengidentifikasi kebutuhan di lapangan.
Di luar sektor pendidikan, MUI juga menyiapkan pembangunan masjid di wilayah terdampak, sebagai ruang ibadah sekaligus pusat kegiatan sosial masyarakat. Program besar lainnya adalah rehabilitasi rumah dengan target 800 unit yang diperuntukkan bagi marbot, tenaga pendidik, dan keluarga terdampak yang telah diverifikasi.
“Kami harus mengawal amanah ini dengan sangat teliti. Setiap proses dari seleksi penerima, penyaluran bantuan, hingga pengawasan akan kami lakukan dengan standar tinggi agar tepat sasaran,” tegasnya.
Kiai Mabroer berharap langkah pemulihan ini tidak hanya memulihkan sarana fisik, tetapi juga menguatkan moral dan kebersamaan masyarakat di wilayah bencana.
“Kami ingin para penyintas merasakan bahwa mereka didampingi. Ada tangan-tangan saudara mereka dari seluruh Indonesia yang siap membantu,” tuturnya.










