TVRINews, Sumenep
Program bedah rumah bagi orang tua siswa Sekolah Rakyat hasil kolaborasi Kementerian Sosial (Kemensos), dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) mulai berjalan di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.
Tahap awal program dilakukan melalui verifikasi faktual, untuk memastikan calon penerima memenuhi seluruh persyaratan yang telah ditetapkan.
Kabupaten Sumenep yang berada di Pulau Madura mendapat kuota sebanyak 50 titik rumah. Dari jumlah tersebut, sebanyak delapan rumah telah dinyatakan lolos verifikasi.
Koordinator program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) Kabupaten Sumenep, Agung Candra mengatakan proses renovasi diperkirakan mulai dilakukan bulan depan setelah SK penetapan penerima diterbitkan.
"Proses renovasi kemungkinan mulai bulan depan, kami masih menunggu SK penetapan," ujar Agung dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Kementerian Sosial, Minggu, 9 Agustus 2026.
Verifikasi faktual dilakukan di sejumlah rumah orang tua siswa Sekolah Rakyat, di antaranya rumah Susanti di Dusun Pasar Kayu, Desa Pabian, Kecamatan Kota Sumenep, serta rumah Indri Novianti dan Ika Triani di Desa Panggarangan, Kecamatan Kota Sumenep.
Staf Khusus Menteri Sosial Ishaq Zubaedi Raqib yang turut melakukan verifikasi meminta para penerima manfaat bersyukur karena terpilih dalam program tersebut.
"Ini segera kita proses, di Sekolah Rakyat tak hanya anaknya disekolahkan tapi orangtuanya juga diberdayakan," kata Ishaq.
Ishaq menegaskan, program bedah rumah tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kelayakan hunian keluarga siswa Sekolah Rakyat. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat pemberdayaan keluarga penerima manfaat.
Salah satu penerima manfaat, Susanti, merupakan ibu dari empat anak. Selain terpilih dalam program bedah rumah, keluarganya juga menerima bantuan sosial melalui Program Keluarga Harapan (PKH), BPNT, serta program pemberdayaan sosial ekonomi (PPSE).
Susanti mengatakan bantuan PPSE yang diterimanya berupa freezer untuk mendukung usaha berjualan es keliling di pasar malam.
"Dapat berupa barang freezer, untuk jualan es keliling di pasar malam," ucap Susanti.
Sementara saat melakukan verifikasi di rumah Indri Novianti dan Ika Triani, Ishaq meminta jajaran Kementerian PKP menyesuaikan renovasi dengan kebutuhan penerima manfaat yang menjalankan usaha laundry.
"Sesuaikan profil rumahnya dengan usahanya, tempat laundry di mana segala macam," tutur Ishaq.
Menurut Ishaq, aspek pemberdayaan ekonomi perlu berjalan beriringan dengan perbaikan hunian. Karena itu, jajaran Kemensos juga diminta terus memberikan dukungan kepada penerima manfaat agar mereka dapat segera mencapai kemandirian.
Secara nasional, pemerintah melalui Program 3 Juta Rumah menargetkan renovasi 10 ribu unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) milik orang tua siswa Sekolah Rakyat melalui program BSPS.
Program tersebut merupakan bentuk sinergi Kemensos dan Kementerian PKP untuk meningkatkan kualitas tempat tinggal keluarga siswa Sekolah Rakyat sekaligus mendukung upaya pengentasan kemiskinan ekstrem.
Melalui program ini, pemerintah tidak hanya berupaya menghadirkan rumah yang lebih layak bagi keluarga siswa Sekolah Rakyat, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi agar keluarga penerima manfaat dapat semakin mandiri.









