TVRINews, Jakarta
Pemerintah menyiapkan solusi jangka panjang dalam menata persoalan kendaraan Over Dimension Over Loading (ODOL) guna menekan emisi karbon sekaligus mengikis angka kecelakaan lalu lintas. Penataan tersebut dilakukan melalui optimalisasi jalur kereta api logistik serta peningkatan kapasitas logistik maritim untuk mengurangi ketergantungan pada angkutan jalan raya.
Langkah strategis ini ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat menghadiri Indonesia Zero Emission Heavy Duty Vehicle (IZEHDV) Forum di Hotel St. Regis, Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026. Selain menangani ODOL, Menko AHY juga menekankan pentingnya dekarbonisasi sektor transportasi sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional dan menekan biaya logistik.
Menko AHY menjelaskan bahwa keberadaan kendaraan berat di Indonesia yang jumlahnya sekitar tiga juta unit menyumbang sekitar 31 persen emisi karbon di sektor transportasi darat. Oleh sebab itu, dekarbonisasi melalui elektrifikasi kendaraan dan penggunaan biodiesel B50 menjadi langkah penting menjaga ketahanan energi nasional.
“Di tengah dinamika dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia harus memiliki semangat mewujudkan kemandirian energi. Ketahanan energi menjadi fondasi penting bagi lebih dari 280 juta penduduk Indonesia agar pertumbuhan ekonomi tetap berjalan, industri terus berkembang, dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat dengan pasokan energi yang cukup, terjangkau, dan tidak terganggu,” ujar Menko AHY.
Ia juga menambahkan bahwa transisi ke energi baru terbarukan merupakan bentuk tanggung jawab jangka panjang pemerintah terhadap generasi mendatang.
“Yang kita lakukan hari ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pembangunan saat ini, tetapi juga sebagai bentuk tanggung jawab kita kepada anak cucu di masa depan. Pembangunan tidak boleh berhenti, tetapi juga harus tetap menjaga bumi yang kita wariskan,” tegas Menko AHY.
Menurut Menko AHY, sekitar 55 persen emisi karbon Indonesia berasal dari sektor energi, di mana 22 persen di antaranya disumbang oleh sektor transportasi. Pemerintah terus mendorong peningkatan efisiensi energi, percepatan elektrifikasi, hingga pengembangan bus dan truk listrik nasional.
“Elektrifikasi kendaraan memerlukan dukungan kebijakan, edukasi kepada masyarakat, serta insentif yang tepat. Di saat yang sama, kita juga ingin industri kendaraan listrik dalam negeri terus berkembang sehingga memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas,” kata Menko AHY.
Selain elektrifikasi, strategi penekanan impor bahan bakar minyak juga dilakukan lewat perluasan penggunaan biodiesel B50.
“Ketika terjadi konflik atau gangguan jalur distribusi energi dunia, dampaknya langsung terasa pada harga dan pasokan energi. Karena itu, penguatan elektrifikasi maupun pemanfaatan biodiesel merupakan bagian dari upaya memperkuat keamanan energi nasional sekaligus mengurangi beban impor,” jelasnya.
Terkait kendaraan ODOL, Menko AHY menyoroti besarnya dampak kerugian yang ditimbulkan, baik dari segi risiko kecelakaan jiwa maupun kerusakan infrastruktur jalan yang memakan biaya perbaikan hingga puluhan triliun rupiah setiap tahunnya.
“Kendaraan ODOL membahayakan keselamatan pengguna jalan dan menyebabkan kerusakan jalan yang sangat besar. Setiap tahun pemerintah harus mengalokasikan lebih dari Rp40 triliun untuk preservasi jalan yang rusak akibat kendaraan yang melebihi dimensi dan muatan,” ungkapnya.
Penanganan ODOL secara bertahap dan berkeadilan akan terus dilakukan dengan melibatkan Kementerian Perhubungan, Kementerian Perindustrian, Kepolisian Negara Republik Indonesia, serta para pelaku usaha.
“Ketika kita mampu mengurangi kendaraan ODOL, kita bukan hanya menekan emisi karbon, melainkan juga mengurangi angka kecelakaan, menghemat biaya perbaikan jalan, sekaligus menciptakan sistem logistik nasional yang lebih efisien dan berdaya saing. Semua ini pada akhirnya kembali kepada kepentingan masyarakat, agar biaya logistik turun, distribusi barang semakin lancar, dan harga kebutuhan masyarakat semakin terkendali,” tutup Menko AHY.
Dalam kesempatan yang sama, Country Director WRI Indonesia Nirarta Samadhi turut menyampaikan pentingnya transformasi di sektor transportasi untuk mencapai kemandirian energi.
“Jumlahnya memang sedikit, tapi dampaknya terhadap konstruksi energi dan emisi, sangat besar. Kabar baiknya, saat ini Indonesia sudah memiliki kemampuan untuk membangun bis dan truk listrik,” pungkas Nirarta.










