TVRINews, Jakarta
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat kesiapsiagaan layanan kesehatan untuk menangani dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama gangguan pernapasan akibat paparan asap.
Hingga 21 Oktober 2026, akumulasi kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak tercatat mencapai 333.470 kasus.
Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Then Suyanti mengatakan pemerintah pusat dan daerah telah menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan serta logistik untuk menangani masyarakat yang terdampak kabut asap.
“Untuk penyiapan layanan kesehatan, tentunya kita cek bagaimana kesiapan pos layanan kesehatan, seperti di seluruh puskesmas di wilayah terdampak, yaitu ada 1.691 puskesmas yang kita siagakan,” ujar Suyanti dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Kamis, 22 Oktober 2026.
Selain puskesmas, Kemenkes menyiapkan 360 rumah sakit rujukan dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat (labkesmas). Pemerintah daerah juga telah menyediakan 491 rumah oksigen untuk mendukung penanganan warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Kemenkes turut memantau kesiapan sumber daya manusia kesehatan, termasuk 18.547 dokter umum serta dokter spesialis mata, paru, telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), serta dokter spesialis lainnya. Masyarakat yang membutuhkan bantuan kegawatdaruratan dapat mengakses layanan Public Safety Center (PSC) 119.
Berdasarkan data Kemenkes per 21 Oktober 2026, sebanyak 333.470 kasus ISPA tercatat di wilayah terdampak karhutla sejak 18 Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 258.298 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun, sedangkan 75.172 kasus dialami anak berusia nol hingga lima tahun.
Kasus tersebut tersebar di 68 kabupaten/kota pada tujuh provinsi. Kemenkes terus memantau perkembangan penyakit yang berkaitan dengan paparan asap, terutama ISPA, seiring memburuknya kualitas udara di sejumlah daerah.
Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) per 22 Oktober 2026 pukul 08.40 WIB juga menunjukkan sejumlah wilayah berada dalam kategori berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 di atas 300.
Partikel halus PM2.5 dalam asap karhutla dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan. Paparan asap dapat memicu iritasi mata, memperburuk asma dan penyakit paru, serta meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular, khususnya pada kelompok rentan.
Kemenkes mengimbau masyarakat memantau kualitas udara melalui ISPUnet yang terintegrasi dengan aplikasi SATUSEHAT.
Warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel, memperbanyak minum air putih, serta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau batuk yang semakin parah.
“Kita harus lindungi kelompok rentan karena lebih gampang menderita penyakit dan kurangi asap yang masuk ke dalam rumah, termasuk kenali gangguan kesehatan,” kata Suyanti.
Di sisi lain, pemerintah pusat dan daerah masih melakukan pengendalian serta pemadaman karhutla di enam provinsi prioritas.
Berdasarkan perkembangan per 21 Oktober 2026, lahan seluas 7.219 hektare masih dalam penanganan di wilayah Sumatera Selatan dan Jambi. Dari jumlah tersebut, 5.194 hektare berada di Sumatera Selatan, sedangkan sisanya di Jambi. Sementara itu, tidak ada lahan terbakar yang terdeteksi di Riau berdasarkan data yang disampaikan.
Di Kalimantan, luas lahan yang masih dalam penanganan mencapai 11.202 hektare. Sebarannya meliputi Kalimantan Tengah seluas 7.938 hektare, Kalimantan Selatan 1.974 hektare, dan Kalimantan Barat 1.290 hektare.
Penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara. Dukungan udara berupa pengeboman air atau water bombing serta operasi modifikasi cuaca diintensifkan untuk membantu pemadaman titik panas dan titik api.
Di luar enam provinsi prioritas, BNPB bersama pemerintah daerah juga menangani karhutla di sejumlah wilayah, antara lain Kalimantan Timur, Ibu Kota Nusantara (IKN), Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Maluku Utara, dan Papua Barat Daya. Total luas area terdampak di wilayah-wilayah tersebut dilaporkan mencapai sekitar 1.243,70 hektare.
Kemenkes mengingatkan bahwa penanganan dampak karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pada perlindungan kesehatan masyarakat, terutama anak-anak, lansia, dan warga dengan penyakit penyerta yang lebih rentan mengalami komplikasi akibat paparan asap.










