TVRINews, Jakarta
Meningkatnya jumlah jamaah umrah asal Indonesia setiap tahun mendorong lahirnya berbagai inovasi dalam edukasi ibadah. Salah satunya digagas Fajar Haetami melalui identitas digital Aa Ajang, Haji Usia Muda dengan memperkenalkan Gerakan Literasi Raudhah, sebuah inisiatif yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai adab, tata cara, sejarah, dan makna spiritual Raudhah sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Gerakan ini hadir di tengah tingginya antusiasme masyarakat untuk beribadah di Raudhah, salah satu lokasi paling mulia di Masjid Nabawi. Seiring penerapan sistem digital oleh Pemerintah Arab Saudi untuk mengatur akses jamaah, kebutuhan akan pemahaman yang lebih komprehensif juga semakin meningkat.
Menurut Fajar Haetami, banyak jamaah berhasil memperoleh kesempatan memasuki Raudhah, tetapi belum seluruhnya memiliki bekal pengetahuan yang memadai mengenai adab dan prioritas ibadah.
"Kami ingin masyarakat memahami bahwa Raudhah bukan sekadar tempat yang ingin dimasuki. Ia adalah ruang yang mengajarkan adab, kesabaran, ilmu, dan kedekatan kepada Allah," ujar Fajar Haetami, dalam keterangan yang diterima redaksi, Selasa, 28 Juli 2026.
Gerakan Literasi Raudhah menggabungkan edukasi, pendampingan, dan pengalaman jamaah dalam satu ekosistem pembelajaran. Pendekatan tersebut dirancang untuk membantu masyarakat memahami ibadah secara lebih utuh, tidak hanya berfokus pada proses administratif maupun reservasi akses ke Raudhah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Kerajaan Arab Saudi terus melakukan transformasi pelayanan haji dan umrah melalui pengembangan infrastruktur Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, digitalisasi layanan, serta sistem reservasi akses ke Raudhah. Langkah tersebut bertujuan menghadirkan pelayanan yang lebih tertib dan aman bagi jutaan jamaah dari berbagai negara.
Di Indonesia, peningkatan kualitas penyelenggaraan haji dan umrah juga terus berkembang, termasuk melalui pembentukan Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia. Sejumlah pembimbing ibadah, akademisi, dan ulama turut mendorong pentingnya pembekalan manasik dan pemahaman ibadah sebelum keberangkatan.
Fajar menjelaskan, inspirasi gerakan ini juga sejalan dengan ajakan sejumlah ulama Indonesia, termasuk Syekh Muhammad Jaber, yang menekankan pentingnya membangun ibadah di atas ilmu, memahami adab, serta meneladani akhlak Rasulullah.
"Ilmu adalah bekal pertama sebelum perjalanan. Semakin baik pemahaman seorang jamaah, semakin besar peluang ia menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk."
Menurut Fajar, tantangan utama saat ini bukan lagi terbatasnya informasi, melainkan kemampuan masyarakat memilih informasi yang benar, utuh, dan mudah dipahami.
Untuk itu, seluruh materi edukasi disusun dalam sebuah Editorial Framework menggunakan kode-kode singkat yang terinspirasi dari simbol di dunia keuangan dan pasar modal. Pendekatan tersebut dipilih agar masyarakat lebih mudah mengenali jenis konten sekaligus membangun identitas pembelajaran yang konsisten.
Framework tersebut meliputi:
* BTC (Baitullah Talk Circle), program diskusi yang membahas pertanyaan seputar Raudhah, Masjid Nabawi, dan adab beribadah.
* ETH (Every Tear Has a Story), kumpulan kisah reflektif mengenai pengalaman spiritual jamaah.
* NFT (Know the Facts), konten yang meluruskan berbagai mitos dan kesalahpahaman mengenai Raudhah berdasarkan pemahaman Islam yang bertanggung jawab.
* XAU (Explore Around the Ummah), materi mengenai sejarah, arsitektur, peradaban Islam, serta kisah tempat-tempat bersejarah di Tanah Suci.
* SOL (Soul of the Land), sajian visual sinematik yang menghadirkan suasana spiritual Haramain.
"Sebagaimana dunia keuangan memiliki kode yang langsung dikenali oleh para pelakunya, kami ingin masyarakat juga memiliki bahasa yang sederhana untuk mengenali jenis-jenis pembelajaran mengenai Tanah Suci," kata Fajar.
Selain menghadirkan edukasi digital, Fajar juga menyediakan layanan pendampingan pemesanan akses Raudhah sesuai mekanisme dan ketentuan yang berlaku. Namun, layanan tersebut hanya menjadi langkah awal dari misi yang lebih besar, yakni meningkatkan kualitas pengalaman ibadah jamaah Indonesia.
"Keberhasilan bukan ketika seseorang berhasil memasuki Raudhah. Keberhasilan adalah ketika ia keluar dari Raudhah dengan hati yang lebih lembut, ilmu yang lebih bertambah, dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik."
Melalui pendampingan tersebut, jamaah didorong memahami adab selama berada di Raudhah, mempersiapkan doa, menjaga ketertiban, serta menghormati jamaah lain sebagai bagian dari ibadah.
Fajar menilai budaya literasi sebelum keberangkatan masih perlu diperkuat. Menurutnya, banyak jamaah mempersiapkan berbagai kebutuhan perjalanan jauh sebelum berangkat, tetapi belum menyediakan waktu yang cukup untuk mempelajari adab, sejarah, serta makna tempat-tempat yang akan dikunjungi.
Melalui platform digital yang dikembangkan, proses belajar diharapkan dapat dimulai sejak seseorang memiliki niat berangkat ke Tanah Suci.
"Kami ingin masyarakat tidak hanya bertanya bagaimana cara masuk ke Raudhah, tetapi juga mengapa Raudhah begitu dimuliakan, bagaimana adab di dalamnya, dan apa yang harus dibawa pulang selain foto."
Ke depan, Aa Ajang | Haji Usia Muda menargetkan terbentuknya ekosistem literasi digital mengenai perjalanan ibadah yang dapat diakses masyarakat dari berbagai latar belakang. Pengembangan tersebut mencakup konten edukasi, pendampingan jamaah, pelatihan pembimbing ibadah, kolaborasi dengan penyelenggara perjalanan, serta penyediaan informasi yang mudah dipahami mengenai Tanah Suci.
Melalui gerakan ini, Fajar berharap semakin banyak jamaah Indonesia tidak hanya memperoleh kesempatan memasuki Raudhah, tetapi juga membawa pulang pemahaman, adab, dan semangat untuk mengamalkan nilai-nilai yang dipelajari selama berada di Tanah Suci.









