TVRINews, Jakarta
Peringatan Hari Anak Nasional 2026 dimanfaatkan drg. Ambar Puspitasari Sp.KGA untuk mengedukasi puluhan murid penyandang disabilitas mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut melalui pengalaman belajar di transportasi publik. Kegiatan diikuti 50 murid beserta pendamping selama perjalanan menggunakan LRT Jabodebek dari Stasiun Halim menuju Stasiun Jatimulya.
Program ini menjadi bagian dari peringatan Hari Anak Nasional 2026 bertema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan". Peserta berasal dari SLB B Negeri 11 Jakarta, SLB B Sekolah Pangudi Luhur, SLB B Negeri 3 Jakarta, dan SLB B Santi Rama Fatmawati Jakarta.
Selama perjalanan, anak-anak mendapat materi mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut melalui penyampaian interaktif tentang cara menyikat gigi yang benar. Mereka juga diberi kesempatan mempraktikkan teknik menyikat gigi menggunakan phantom gigi. Dalam kegiatan tersebut, drg. Ambar didampingi drg. Dini Larasati, dokter gigi fungsional LRT Jabodebek.
Menurut Ambar Puspitasari, staf pengajar Ilmu Kedokteran Gigi Anak Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya Malang, kebiasaan menjaga kebersihan gigi dan mulut perlu ditanamkan sejak usia dini, termasuk kepada anak penyandang disabilitas, melalui metode pembelajaran yang mudah dipahami dan menyenangkan.

“Anak-anak akan lebih mudah memahami materi ketika belajar melalui pengalaman yang menyenangkan. Edukasi Kesehatan gigi dan mulut tidak selalu harus dilakukan di ruang kelas. Perjalanan menggunakan transportasi publik juga dapat menjadi media belajar yang interaktif sehingga pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut lebih mudah diterima,” ujar drg. Ambar, dalam keterangan yang diterima Selasa, 28 Juli 2026.
Selain praktik menyikat gigi, peserta diajak menerapkan kebiasaan sederhana untuk menjaga kesehatan gigi, seperti menyikat gigi dua kali sehari setelah sarapan dan sebelum tidur, mengonsumsi makanan bergizi, mengurangi makanan manis dan lengket, serta memeriksakan kesehatan gigi setiap enam bulan sekali.
Usai perjalanan menggunakan LRT Jabodebek, kegiatan dilanjutkan dengan edukasi kesehatan gigi dan mulut secara daring melalui Zoom Meeting bersama staf pengajar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya Malang, yakni drg. Diena Fuadiyah, drg. Neny Roeswahjuni, drg. Edina Hartami, dan drg. Amaliyah Nur Irianti.
Dalam sesi tersebut, para dokter gigi menjelaskan penyebab gigi berlubang atau karies, mulai dari konsumsi makanan manis dan lengket, bakteri di rongga mulut yang mengubah gula menjadi asam, kondisi rongga mulut dan struktur email gigi, hingga sisa makanan yang dibiarkan menempel terlalu lama pada permukaan gigi. Keempat faktor tersebut dapat memicu kerusakan gigi yang bermula pada lapisan email dan berkembang hingga ke akar gigi, sehingga menimbulkan rasa sakit bahkan pembengkakan gusi.
Edukasi juga membahas berbagai kebiasaan yang dapat memengaruhi pertumbuhan gigi anak, seperti mengisap jempol, menggigit bibir atau kuku, bernapas melalui mulut, serta kebiasaan menggeretakkan gigi saat tidur (bruksisme). Kebiasaan tersebut berisiko menyebabkan gigi tonggos, gigi berjejal, kerusakan kuku, langit-langit mulut menjadi lebih dalam, hingga gangguan pada sendi rahang.
Para pemateri mengingatkan pentingnya menyikat gigi secara teratur, membatasi konsumsi makanan manis dan lengket, mengonsumsi makanan sehat dan berserat, serta menjalani pemeriksaan gigi secara rutin setiap enam bulan. Gigi dan mulut yang sehat mendukung proses mengunyah secara optimal sehingga asupan nutrisi dapat terpenuhi dan menunjang tumbuh kembang anak.
Kolaborasi tenaga kesehatan, dunia pendidikan, dan transportasi publik dalam kegiatan ini diharapkan dapat menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus mendorong anak-anak menerapkan kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan mulut dalam kehidupan sehari-hari.









