TVRINews, Jakarta
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar meresmikan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Aisyah Binti Abu Bakar, lembaga pendidikan tinggi Islam khusus muslimah pertama di Indonesia. Ia berharap kampus ini dapat menjadi institusi bagi lahirnya para mufassirah (perempuan ahli tafsir) yang progresif, moderat, dan berwawasan kebangsaan.
Nasaruddin menekankan pentingnya penguasaan literasi bahasa Arab sebagai kunci memahami Al-Qur'an secara kontekstual. Menurutnya, pemahaman teks tanpa kedalaman bahasa sering kali menjebak seseorang pada interpretasi yang ekstrem, baik itu liberal maupun radikal.

(Menteri Agama, Nasaruddin Umar. (Foto: Kemenag RI))
"STAI Aisyah Binti Abu Bakar ini harus mampu melahirkan mufassirah yang mumpuni. Kita butuh pemikiran-pemikiran baru yang segar, yang mampu menafsirkan Al-Qur'an sesuai dengan konteks budaya dan zaman kita di Indonesia, tanpa harus keluar dari koridor Al-Qur'an dan Hadis," kata Nasaruddin, dikutip dari siaran persnya, Sabtu, 18 Juli 2026.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya peran perempuan dalam peradaban Islam. Nasaruddin menekankan bahwa Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi martabat perempuan. Oleh karena itu, ia mendorong para mahasiswi untuk berani berpikir kritis dan memberikan kontribusi intelektual bagi umat.
"Saya ingin di sini lahir pemikiran progresif. Berbeda pendapat boleh, selama argumen yang dibangun tetap berpijak pada metodologi keilmuan yang benar. Islam itu moderat, dan tugas kita adalah menerjemahkan nilai-nilai Islam tersebut ke dalam norma sosial yang relevan dengan kebutuhan zaman," ujarnya.
Nasaruddin juga memberikan perhatian khusus pada pentingnya menjaga lingkungan hidup. Selain itu, ia berpesan agar kampus ini menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi mahasiswi untuk berekspresi.
"Jadilah mahasiswi yang jernih pemikirannya. Saya berharap kampus ini menjadi pusat pemberdayaan perempuan yang memberikan penguatan bagi nasionalisme, kemanusiaan, dan keislaman yang rahmatan lil 'alamin," pungkasnya.










