TVRINews, Cimahi
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meresmikan Gedung Galeri Kejuruan di Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI), Cimahi, Jawa Barat, Senin, 21 September 2026.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, Galeri Kejuruan menjadi ruang untuk menampilkan berbagai karya, inovasi teknologi, serta kreativitas dari sekolah menengah kejuruan (SMK) dan lembaga pendidikan vokasi.
“Gedung Galeri itu menjadi pusat yang di dalamnya ditampilkan berbagai inovasi, kreativitas, dan juga capaian yang berbasis teknologi yang dikembangkan oleh SMK-SMK yang ada di Indonesia,” ujar Mu’ti dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 22 September 2026.
Mu’ti berharap koleksi dan karya yang ditampilkan di Galeri Kejuruan dapat diperbarui secara berkala setiap tahun. Dengan demikian, perkembangan teknologi dan inovasi di bidang pendidikan vokasi dapat terus terlihat dan berkembang.
Peresmian Galeri Kejuruan juga menjadi bagian dari rangkaian Gelar Karya Pelatihan Peningkatan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Vokasi dengan tema Etalase Karya, Kemitraan Industri, dan AI untuk Transformasi Pendidikan Vokasi.
Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus) Tatang Muttaqin mengatakan, keberadaan Galeri Kejuruan menjadi penanda bahwa peningkatan mutu pendidikan vokasi harus diwujudkan melalui praktik nyata.
Menurut Tatang, pendidikan vokasi menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perkembangan teknologi yang cepat, kemitraan dengan dunia industri yang belum sepenuhnya terintegrasi dalam pembelajaran, hingga pemanfaatan teknologi pembelajaran yang belum merata.
“Hari ini kita ingin membuktikan bahwa tantangan itu bisa kita jawab dengan aksi nyata,” ungkap Tatang.
Galeri Kejuruan dirancang sebagai ruang inovasi bagi guru untuk belajar dan siswa untuk menghasilkan karya. Kemitraan dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) juga diarahkan pada kegiatan yang lebih konkret, seperti teaching factory, penyusunan kurikulum bersama, proyek, hingga sertifikasi yang mendukung kesiapan siswa memasuki dunia kerja.
“Kita tidak ingin MoU hanya menjadi dokumen yang rapi di atas meja; MoU harus turun ke dalam kelas,” jelasnya.
Penguatan kompetensi guru dilakukan melalui Pelatihan Daring Terbimbing Angkatan 6 yang terdiri atas 16 kelas dengan total 320 guru SMK. Selain itu, terdapat pelatihan bagi 16 instruktur lembaga kursus dan pelatihan (LKP) untuk memproduksi iklan animasi 3D yang terintegrasi dengan kecerdasan artifisial atau AI.
Berbagai hasil pelatihan tersebut kemudian ditampilkan dalam gelar karya. Produk yang dihasilkan mencakup produk pembelajaran, perangkat ajar, dan inovasi yang dapat diterapkan di kelas maupun bengkel kerja.
Pada kesempatan yang sama, Kemendikdasmen juga memperkuat kemitraan dengan dunia industri melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus dengan PT ASIX Indonesia Cerdas. Kerja sama tersebut menjadi landasan pengembangan kompetensi berbasis kecerdasan artifisial, robotika, dan teknologi drone di lingkungan pendidikan vokasi.

(Foto: TVRINews/HO-Kemendikdasmen)
Kolaborasi AI vokasi bersama PT ASIX Indonesia Cerdas juga memasuki tahap soft launch, dengan aktivasi platform AI vokasi untuk mendukung penyusunan modul ajar, personalisasi pembelajaran, serta efisiensi beban administratif guru SMK.
Sementara itu, BBPPMPV BMTI menandatangani Rencana Kerja dengan PT Agate International dan PT Handal Yesindo Sejahtera sebagai tindak lanjut kemitraan industri dalam pengembangan konten dan teknologi pembelajaran.
Mu’ti menambahkan, pengembangan pendidikan vokasi perlu memperkuat keterhubungan antara pendidikan formal dan nonformal. Kemendikdasmen mulai merancang skema yang memungkinkan lulusan SMK maupun SMA memperoleh ijazah sekaligus sertifikat keahlian melalui kursus dan pelatihan.
“Berbagai kritik tentu saja kita dengar, tapi kita jawab dengan bekerja, bukan hanya dengan berkata-kata,” tegasnya.
Ia juga meminta siswa SMK percaya diri dengan kompetensi yang dimiliki karena pendidikan vokasi membekali mereka dengan keahlian yang dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja. Pemanfaatan AI, lanjut Mu’ti, juga diarahkan untuk mendukung proses pembelajaran secara bertanggung jawab dan tetap memperhatikan nilai serta budaya bangsa Indonesia.
Tatang menegaskan, keberadaan Galeri Kejuruan dan berbagai kemitraan yang dibangun harus memberikan manfaat setelah rangkaian kegiatan berakhir.
“Hari ini kita meresmikan fasilitas, besok kita hidupkan manfaatnya. Hari ini kita menandatangani kemitraan, besok kita wujudkan hasilnya,” tandasnya.
Menurut Tatang, tujuan pengembangan pendidikan vokasi tidak berhenti pada pembangunan fasilitas, pemanfaatan teknologi, maupun pembentukan kemitraan, tetapi diarahkan untuk menyiapkan masa depan peserta didik melalui pendidikan yang terus berkembang serta memberikan ruang bagi guru dan siswa untuk bertumbuh.










