TVRINews, Surabaya
Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melibatkan generasi muda dalam upaya menghadapi perubahan iklim melalui kegiatan Cengkerama Iklim: “Muda Peduli, Muda Beraksi” di Surabaya, Jawa Timur, pada 19–20 September 2026.
Kegiatan yang diinisiasi Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim (MSDPPI) KLH/BPLH tersebut menggandeng Yayasan Bina Bhakti Lingkungan (YBBL) dan mendapat dukungan Hanns Seidel Foundation (HSF).
Sebanyak 47 pelajar SMA/SMK dan 53 mahasiswa mengikuti kegiatan yang dirancang untuk mengidentifikasi persoalan lingkungan di sekitar mereka sekaligus merumuskan solusi yang dapat diterapkan di sekolah, kampus, maupun lingkungan tempat tinggal.
Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon KLH/BPLH, Ary Sudijanto, mengatakan keterlibatan generasi muda penting karena mereka akan menghadapi dampak dari keputusan lingkungan yang dibuat saat ini.
"Yang kami harapkan dibawa pulang dari Cengkerama Iklim adalah pemahaman yang lebih baik mengenai perubahan iklim dan peran generasi muda, gagasan realistis yang dapat diterapkan di sekolah, kampus maupun masyarakat, serta jejaring baru yang memungkinkan aksi iklim dilakukan bersama dan kolaboratif," ujar Ary dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 22 September 2026.
Pada hari pertama, peserta mendapatkan pembekalan mengenai tantangan perubahan iklim dan triple planetary crisis. Perwakilan Direktorat MSDPPI, Wisnu Murti, mendorong peserta memulai aksi lingkungan dari kebiasaan sehari-hari, seperti menghemat energi, memilah sampah, dan menanam pohon.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Muhammad Fikser, turut memaparkan berbagai upaya pemerintah daerah dalam menjaga lingkungan. Di antaranya melalui pengembangan ruang terbuka hijau, perlindungan kawasan mangrove, serta pemanfaatan Sistem Informasi Pengelolaan Bank Sampah Kota Surabaya (SIBASAM).
Sementara itu, Putri Lingkungan Hidup Kota Surabaya 2024, Queen Annesya, membagikan pengalamannya dalam mengembangkan pengelolaan sampah organik berbasis maggot di tengah masyarakat.
Diskusi juga menghadirkan anak muda yang aktif dalam gerakan lingkungan. Rizana Hasna Yusuf dari Bank Sampah Induk Surabaya mengajak peserta menjadikan pemilahan sampah sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Delegasi Indonesia dalam ASEAN Children and Youth Climate Summit 2025, Anastasya Laila Definia Salsabila, membagikan pengalaman mengenai keterlibatan generasi muda dalam ruang kebijakan.
"Suara pemuda bukan hanya suara masa depan, tetapi juga bagian dari keputusan yang dibuat hari ini," tutur Anastasya.
Pegiat lingkungan Benedict Wermter atau yang dikenal dengan sebutan Bule Sampah juga memberikan perspektif mengenai cara menyampaikan pesan pelestarian lingkungan melalui komunikasi yang kreatif dan dekat dengan kehidupan anak muda.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan aksi lapangan pada 20 September 2026 melalui Climate Action Day di kawasan Pantai Kenjeran Watu-Watu, Surabaya.
Para peserta terlibat langsung dalam kegiatan pembersihan pantai, pemilahan sampah plastik dan limbah yang ditemukan, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Melalui kegiatan tersebut, KLH/BPLH mendorong keterlibatan generasi muda agar tidak berhenti pada diskusi mengenai perubahan iklim, tetapi dilanjutkan dengan aksi lingkungan yang dapat dilakukan secara kolaboratif di lingkungan masing-masing.










