TVRINews, Jakarta
Perkembangan pemasaran digital (marketing), kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), serta hubungan bisnis Indonesia–Tiongkok membuka peluang karier dan usaha baru bagi generasi muda. Kondisi ini mendorong kebutuhan tenaga kerja yang tidak hanya menguasai keterampilan akademik dan teknologi, tetapi juga mampu berkomunikasi lintas budaya serta memahami bisnis internasional.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam peluncuran program gelar ganda (Joint Degree) Global Business Chinese yang diselenggarakan BINUS University bersama South China University of Technology (SCUT) di BINUS @Kemanggisan, Kampus Anggrek, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman pendidikan di Indonesia dan Tiongkok sekaligus memperkuat kemampuan bahasa Mandarin, pemahaman budaya, dan kompetensi bisnis internasional. Head of Global Business Chinese BINUS University, Jureynolds, mengatakan pembelajaran bahasa Mandarin perlu dipadukan dengan pemahaman budaya dan bisnis agar relevan dengan kebutuhan dunia profesional.
“Melalui Global Business Chinese, kami ingin mempersiapkan mahasiswa yang tidak hanya menguasai bahasa Mandarin, tetapi juga memahami budaya dan bisnis internasional. Kolaborasi Joint Degree bersama South China University of Technology memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung di Tiongkok, memperluas jejaring, serta mendapatkan pengalaman internasional yang menjadi bekal penting untuk membangun karier di masa depan,” ujar Jureynolds.
Hubungan ekonomi Indonesia–Tiongkok yang mencakup perdagangan, manufaktur, teknologi, dan ekonomi digital memperluas kebutuhan tenaga profesional yang memahami kedua pasar tersebut. Di tengah perkembangan ini, kemampuan bahasa Mandarin dapat menjadi salah satu modal untuk membangun komunikasi dan hubungan kerja dengan mitra bisnis Tiongkok. Namun, keterampilan bahasa perlu didukung pemahaman budaya, kemampuan beradaptasi, serta pengetahuan mengenai dinamika bisnis internasional.
Perspektif industri tersebut dibahas dalam sesi diskusi yang menghadirkan Director of Huawei Technologies, Mohamad Rosidi, serta pengusaha dan pembuat konten Steven Howard. Dalam diskusi itu, Rosidi menyoroti pentingnya kompetensi lintas budaya dalam menghadapi perkembangan industri global. Selain keahlian teknis, kemampuan berkomunikasi, memahami kebiasaan profesional, dan membangun hubungan dengan mitra dari berbagai negara menjadi bekal dalam lingkungan bisnis internasional.
Sementara itu, Steven Howard membagikan pengalamannya selama 13 tahun tinggal dan menempuh pendidikan di Tiongkok hingga membangun bisnis di negara tersebut. Pengalaman itu memberinya pemahaman mengenai budaya, perkembangan teknologi, dan karakteristik lingkungan bisnis Tiongkok. Steven juga menghubungkan pengusaha Indonesia dengan ekosistem bisnis Tiongkok melalui perjalanan bisnis ke Shenzhen dan Beijing.
Pengalamannya di bidang pemasaran dan AI, termasuk kerja sama dengan perusahaan asal Tiongkok, menggambarkan bagaimana perkembangan teknologi dapat membuka peluang usaha sekaligus menuntut pelaku bisnis untuk terus beradaptasi.
Untuk menjawab kebutuhan kompetensi tersebut, BINUS University dan SCUT menghadirkan program gelar ganda dengan skema pembelajaran 2+2. Mahasiswa menjalani dua tahun pertama di BINUS University, kemudian melanjutkan dua tahun berikutnya di SCUT, Guangzhou, Tiongkok. Mahasiswa yang memenuhi persyaratan berkesempatan memperoleh dua gelar akademik, yakni Sarjana Sastra (S.S.) dari BINUS University dan Bachelor of Arts (B.A.) dari SCUT.
Pada tahap awal, mahasiswa mempelajari bahasa Mandarin, budaya lintas negara, dan dasar-dasar bisnis internasional. Pendidikan di Tiongkok kemudian memberikan kesempatan untuk mengenal lingkungan akademik dan profesional secara langsung, sekaligus melatih kemampuan beradaptasi di tengah perbedaan budaya.
Program ini dapat diikuti mahasiswa aktif Global Business Chinese mulai angkatan BINUSIAN 2029 yang memenuhi persyaratan kedua universitas. Persyaratan tersebut mencakup penyelesaian empat semester dengan minimal 84 satuan kredit semester (SKS) di BINUS University serta kemampuan bahasa Mandarin setara HSK Level 5 sesuai ketentuan SCUT.
Guangzhou, tempat SCUT berada, merupakan salah satu pusat bisnis dan ekonomi Tiongkok. Lokasinya juga memberikan akses ke kawasan bisnis dan teknologi seperti Shenzhen serta Hong Kong.
Pengalaman belajar di lingkungan tersebut dapat membantu mahasiswa memahami perkembangan industri, membangun jejaring, dan mengenali peluang kerja maupun usaha lintas negara.
Perkembangan AI turut mengubah cara perusahaan menjalankan pemasaran, mengolah informasi, dan mengembangkan bisnis. Perubahan ini membuat generasi muda perlu memadukan kemampuan teknologi dengan keterampilan komunikasi, analisis, kreativitas, dan pemahaman pasar. Dalam konteks hubungan bisnis Indonesia–Tiongkok, kombinasi keterampilan tersebut berpotensi mendukung berbagai bidang, mulai dari pemasaran digital dan perdagangan internasional hingga pengembangan bisnis berbasis teknologi.
Pendidikan lintas negara menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan mahasiswa pada perbedaan budaya kerja dan dinamika pasar. Meski demikian, peluang karier tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bahasa atau pengalaman belajar di luar negeri, tetapi juga oleh penguasaan kompetensi profesional dan kemampuan menerapkannya sesuai kebutuhan industri.
Melalui kerja sama pendidikan dengan SCUT, BINUS University mengembangkan pembelajaran yang menggabungkan bahasa Mandarin, pemahaman lintas budaya, dan bisnis internasional. Pendekatan ini relevan dengan kebutuhan generasi muda untuk mempersiapkan diri menghadapi perubahan teknologi serta peluang ekonomi yang semakin terhubung antarnegara.










