TVRINews – Jakarta
Badan Gizi Nasional Prioritaskan Wilayah Risiko Stunting Tinggi
Badan Gizi Nasional (BGN) mengonfirmasi bahwa distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) akan sepenuhnya mengacu pada Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru dari Kementerian Kesehatan, guna memastikan bantuan tepat sasaran bagi kelompok yang paling membutuhkan.
Kepala BGN, Dadan, menyatakan bahwa sinkronisasi data merupakan aspek krusial dalam keberhasilan program ini. Pihaknya akan menggandeng otoritas pendidikan dan kesehatan di tingkat daerah untuk memvalidasi jumlah penerima manfaat secara berkala.
“Tim kami akan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kesehatan setempat untuk memastikan data akurat, sehingga MBG tepat sasaran,” ujar Dadan di kutip, Senin 30 maret 2026.
Fokus Strategis pada Akhir Pekan
Berbeda dengan skema umum yang mengikuti hari sekolah tradisional (Senin-Jumat), anak-anak di wilayah dengan prevalensi stunting tinggi akan menerima tambahan asupan gizi pada hari Sabtu.
Kebijakan ini dirancang sebagai bentuk intervensi berkelanjutan bagi daerah-daerah yang memerlukan perhatian khusus.
Menurut Dadan, pemberian gizi di hari keenam tersebut merupakan langkah strategis untuk menjamin konsistensi nutrisi yang diterima anak-anak setiap harinya.
Fokus utama pemetaan saat ini mencakup wilayah Sumatera, Indonesia Timur, hingga Papua, yang secara statistik masih mencatatkan angka stunting yang signifikan.
Integritas Data dan Masa Depan
BGN menekankan bahwa pendataan menyeluruh tidak hanya mencakup kuantitas siswa dan sekolah, tetapi juga kondisi kesehatan spesifik di tiap titik distribusi.
Hal ini dilakukan demi meminimalisir risiko adanya anak yang tidak terjangkau oleh program pemerintah.
“Integritas data sangat penting, karena program ini menyangkut kesehatan dan masa depan generasi muda. Kami tidak ingin ada anak yang tertinggal dari pemenuhan gizi,” tegas Dadan.
Melalui pendekatan berbasis data yang ketat, pemerintah optimis program ini dapat menjadi katalisator dalam menekan angka stunting nasional secara efektif, sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan fisik dan kognitif generasi penerus bangsa.










