TVRINews - Jakarta
Ribuan akademisi di Jakarta mengkaji arah kebijakan strategis Presiden Prabowo untuk kemandirian ekonomi nasional.
Presiden RI Prabowo Subianto memaparkan kerangka kebijakan ekonomi dan orientasi bernegara dalam forum Sarasehan Kebangsaan yang digelar di Jakarta Convention Center.
Acara yang disandingkan dengan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 ini dihadiri oleh sekitar 2.600 akademisi dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di tanah air.
Dalam pidatonya, Kepala Negara mengulas berbagai tantangan geopolitik dan realitas ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini.
Paparan tersebut dinilai memberikan perspektif baru bagi dunia pendidikan tinggi mengenai pentingnya menjaga kedaulatan ekonomi di tengah dinamika global.
Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Mohammad Irhas Effendi, menyatakan bahwa kehadiran Presiden di forum tersebut menjadi ruang dialog yang krusial bagi para pendidik.
Menurutnya, penjelasan mengenai aliran bernegara dan strategi ekonomi yang disampaikan memberikan pemahaman lebih dalam mengenai arah pembangunan nasional.
"Pemaparan tersebut memperkaya wawasan kami tentang bagaimana sebuah negara menentukan langkah strategisnya. Harapannya, pendekatan yang diterapkan pemerintah nantinya mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik," ujar Irhas kepada media Yang dikutip Sabtu 27 Juni 2026.
Selain fokus pada kemandirian ekonomi, forum ini juga menyoroti peran penting institusi pendidikan sebagai mitra strategis pemerintah dalam merumuskan solusi berbasis ilmu pengetahuan.
Wakil Rektor UPN Veteran Yogyakarta, Sutarto, menekankan bahwa spirit utama yang ditangkap oleh komunitas akademik adalah komitmen jangka panjang pemerintah.
"Fokus utamanya adalah bagaimana kita bisa bergerak bersama menuju Indonesia Emas 2045. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi akademisi untuk berkontribusi sesuai bidang keilmuan," ungkap Sutarto.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Migas Center UPN Veteran Yogyakarta, Sayoga Heru, menilai bahwa sinergi antara visi kepemimpinan dan kontribusi kampus adalah kunci bagi keberhasilan ekonomi.
Baginya, pemahaman yang komprehensif terhadap kebijakan pemerintah sangat esensial agar akademisi dapat memberikan sumbangsih yang relevan.
"Ini menjadi momentum bagi dunia kampus untuk menerjemahkan visi tersebut ke dalam aksi nyata yang mendukung ekonomi nasional.
Stabilitas kepemimpinan dan ketegasan visi sangat dibutuhkan untuk mencapai target kesejahteraan rakyat," tambah Sayoga.
Penyelenggaraan sarasehan ini mencerminkan keterbukaan pemerintah dalam menerima masukan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk kalangan intelektual.
Dialog lintas sektor ini diharapkan dapat menjadi fondasi dalam pengambilan kebijakan publik yang berbasis pada data dan riset akademik di masa mendatang.










