TVRINews, Merauke
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB University mengembangkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) dan inovasi olahan abon lele di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Program ini dihadirkan sebagai solusi atas melambungnya harga pakan ikan sekaligus langkah hilirisasi guna meningkatkan nilai jual hasil perikanan warga setempat.
Inisiatif pemberdayaan ini melibatkan sekitar 40 warga transmigran dan Orang Asli Papua (OAP) yang terbagi dalam tiga gabungan kelompok tani (gapoktan) sebagai unit pembinaan.
Anggota TEP IPB University, Noval, mengungkapkan bahwa langkah pemanfaatan maggot dan pembuatan abon lele ditujukan untuk menekan biaya produksi budidaya serta memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.

"Untuk abon ini sendiri sebenarnya kita mau hilirisasi sesuai dengan program Pak Prabowo. Nah, program abon ini sendiri berangkat dari kasus harga pakan yang lumayan mahal di sini untuk lele. Makanya, kami bawa inovasi pakan alternatif menggunakan maggot," ujar Noval dalam keterangan yang diterima, Sabtu 5 September 2026.
Guna menjaga ketersediaan pakan maggot, tim menggandeng pengelola rumah makan di sekitar kawasan Salor dengan menyediakan wadah penampung limbah organik sebagai media tumbuh larva. Selain dipakai sendiri, hasil budidaya maggot rencananya akan dipasarkan kepada peternak lokal sebagai pakan ternak berkelanjutan.
Tim Ekspedisi Patriot turut memangkas rantai distribusi penjualan lele agar harga di tingkat pembudidaya lebih menguntungkan, serta mengawal pendampingan UMKM hingga sertifikasi halal dan pemasaran digital.
Ketua UMKM Warung Ola, Indah Katharina Wona, mengapresiasi pelatihan diversifikasi olahan ikan yang dinilainya mampu meningkatkan taraf hidup keluarga.
"Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi kami karena ikan gastor bukan hanya sekadar kami konsumsi, digoreng atau dimasak, tetapi kami juga bisa berinovasi dengan membuat abon gastor dan juga abon lele untuk meningkatkan nilai jual ikan itu sendiri demi meningkatkan pendapatan keluarga," ujarnya.
Langkah pengembangan potensi kawasan transmigrasi ini sejalan dengan pandangan Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), terkait pentingnya memberikan nilai tambah pada komoditas daerah.
"Berbicara masa depan artinya bukan hanya memberdayakan apa yang sudah ada, tetapi meningkatkan nilai dan potensi di setiap kawasan transmigrasi, dan mengawinkan potensi-potensi tadi dengan kekuatan kapital," ujar Menko AHY.
Kehadiran TEP IPB University di Salor merupakan bagian dari kebijakan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara yang menjadikan Kawasan Salor sebagai percontohan transformasi transmigrasi berbasis ekonomi mandiri.
"Ke depan tidak hanya Merauke, kami ingin menembus seluruh Papua. Harus ada pertumbuhan ekonomi di seluruh provinsi Papua, di seluruh kabupaten Papua, di seluruh desa-desa di Papua," kata Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara.










